Saya adalah Peniup Balon

Salah satu judul novel yang ditulis oleh John Green berjudul Paper Town, atau Kota Kertas. Dikisahkan dalam novel in tentang seorang anak remaja bernama Quentin yang sepanjang novel berusaha untuk mencari Margo yang hilang setelah kali pertama dan terakhir mereka menghabiskan waktu bersama sejak sebeumnya tidak pernah berbicara selama sekian tahun.

Ide utama dalam novel ini adalah sesuatu yang sangat saya amini. Tentang jatuh cinta bukan pada orang yang sebenarnya, melainkan pada khayalan kita tentang sosoknya. Saya mengamininya dalam beberapa artian. Pertama, saya tahu benar bahwa saya adalah sosok Quentin: seseorang yang selalu mengagumi dari kejauhan, tanpa pernah benar-benar berinteraksi dengan orang yang saya kagumi. Menganggap semua informasi yang saya dapatkan melalui interaksi terbatas yang cukup singkat sudah cukup sebagai sumber informasi untuk menggambarkkan orang tersebut.

Dan yang kedua, saya tahu benar bahwa yang saya lakukan kesalahan lain yang saya lakukan berulang-ulang dalam hidup saya. Bahwa John Green benar. Di akhir novelnya (spoiler), Margo menjelaskan dirinya dan membuat Quentin/Q sadar, Q selama ini mengagumi sosok Margo yang ia ciptakan, tapi ia tidak mengenal Margo yang sebenarnya.

Cukup banyak saya bertemu dengan orang-orang yang memukau, yang bersinar, yang membuat saya silau dan dibutakan oleh ide-ide yang saya bangun atas kekaguman saya. Cukup banyak juga puisi dan prosa yang saya buat, berisi deskripsi orang-orang ini, diiringi harapaan untuk mengenal mereka lebih jauh lagi.

Tapi pada akhirnya, saya selalu menemukan bahwa saya berusaha mencengkram memori yang semakin lama semakin memudar. Karena pertemuan singkat, kesempatan yang terbatas, dan ketidakberanian untuk menginvasi personal space orang lain. Saya menemukan diri saya berusaha mempertahankan kenangan-kenangan yang semakin lama semakin membesar namun memudar, seperti balon yang berekspansi tapi sebenarnya bendanya ya itu-itu saja. Kenangan berbahan dasar interpretasi, bukan interaksi. Kenangan-kenangan saya memfiksi.

Tak heran jika saya pada akhirnya selalu mudah merelakan.