Too Left That We’re Left Behind, or, A Slice of Master Student’s Life

I met Dorothy yesterday who just returned from Indonesia to take her Ph.D. in UCL Institute of Education. We catch up each other stories until we somehow end up talk about why IoE, which labelled as the best university in education in the world, went bankrupt.

Dorothy¬†told me that her professor told her and other students¬†that “we’re too left that we’re left behind”. This statement is very interesting for¬†me as¬†IoE master student because I did not even realise the ‘left’ vibe of the¬†institution.

Call me shallow, but it really is the truth. I thought what they have been given us students is simply the ‘latest’ development in education field, or, specifically ‘science¬†education’ world. Because they always managed to present both sides of the story. I thought that I choose to be like ‘this’. By ‘this’ I mean: I teach science, but I don’t think it is the only way to search for the truth. I¬†believe that everything is built on a certain¬†perspective, which I would argue that however¬†right it has on predicting some stuff, which prediction¬†could still be wrong. Science is simply¬†one model that could be replaced by another model¬†if some¬†transformation of perspective is needed. For example, mechanical physics to quantum physics.

However, I remember several days ago I read an article¬†stating that evolution is a¬†fact.¬†The article went all the way explaining how the word ‘fact’ is used in science. A claim could be wrong,¬†but only to a very small degree that people could just ignore it. Well, that was convincing.

But then I met Eleanor today. My classmate in Foundation of Science Education course. We talked about our latest assignment and she chose to take a stand on the philosophy of science, and criticise Bernstein for his Baconian view of science, claiming that it is out of dates (agree). Somehow I managed to slip what Dorothy said to me to her, and told her that maybe we all from science education MA has been unconsciously indoctrinated by the institution. I liked her response.

‘Well, that’s good. I’m a hard left. I’m always left.’¬†And surprisingly, she¬†told me something about her view of the word ‘facts’ in science. For her, ‘fact’¬†in science is not really¬†a ‘fact’ because the way the word is used in science is different. There is always¬†a little possibility for it to be wrong, and that has been ignored for so¬†long. On this remark, I cannot help myself to remember the discovery¬†of our solar system planets. ¬†Scientists in the past ignored ‘problem’ with Newton’s¬†equation, claiming¬†some¬†case to be exceptional.

On this remark, I cannot help myself to remember the discovery¬†of our solar system planets. ¬†Scientists in the past ignored ‘problem’ with Newton’s¬†equation, claiming¬†some¬†case to be exceptional.¬†However, when Einstein proposed¬†to think about physics in a different model than Newton, only then the exceptional cases could be explained without making new equations, or¬†another ‘exceptional’ case. This story shows that scientists ignorance and claim of facts¬†blinded them. Thanks to Einstein who refuse to accept other scientists’¬†agreed facts and made a new model of science which managed to explain the world better.¬†The point of this¬†rambling is, it is important to cautiously use or accept what is claimed to be a ‘fact’.

The point of this¬†rambling is that I come to a conclusion: it is important to¬†cautiously using and accepting what is claimed to be a ‘fact’. And for me, this is also a sign, a moment of realisation, that I have been accepting the idea of me not being ‘blinded’ by ‘science fact’ anymore, that I have been ‘enlightened’, unlike the scientists. This is so clear because as you see, I have been exposed to two definitions¬†of the word ‘fact’ in science which actually have no difference except the ‘ignoring’ part.

Well, I know that I prefer not to ignore¬†the small probability of science to be wrong,¬†which clearly shows that I¬†might now have become a hipster as well.¬†I don’t know to what extent that this actually comes from my own belief and values, but thanks to my¬†institution, now I get this far.

‘Gravitational wave’, So what?

Seminggu terakhir di timeline berseliweran banyak postingan tentang gravitaional wave yang akhirnya ‘membuktikan’¬†perkiraan Einstein.¬†I cannot explain it in here in a¬†sense that I most possibly won’t get it right.

But why does it matter? Apakah setelah dibuktikannya teori ini, upah minimum buruh akan meningkat? Atau masalah wabah malaria di afrika akirnya selesai? Apakah internet akhirnya akan murah?

Oke tunggu, jangan langsung naik pitam karena statement tersebut. Itu bukan pertanyaan retoris, tapi pertanyaan yang sebenarnya masih berhubungan dengan euforia gelombang gravitasi ini, in a good way.

Mungkin hal pertama yang harus kita¬†tanyakan adalah, kita¬†ngerti nggak sih ini sebenarnya kenapa?¬†Masih ingat Newton? Ia adalah orang pertama yang mengajukan model gravitasi. Konsep gravitasinya sederhana, tapi akurat. Lebih dari seabad teori-teori Newton dijadikan¬†seperti agama dalam sains di masa itu. Hingga akhirnya¬†muncullah Einstein. Ia mengajukan model lain yang lebih akurat setalah dia mempelajari anomali-anomali yang terjadi ketika teori¬†Newton digunakan.¬†Ia mengajukan model baru¬†yang¬†jauh berbeda dari yang telah digunakan oleh ilmuan pada zaman itu. Terlepas dari fakta bahwa model ini mampu menjelaskan¬†lebih akurat tentang alam semesta, teori ini rumit. Jika urusan pemakai model tidak jauh-jauh dari urusan¬†yang masih di bumi (misalnya bangunan, pesawat, dkk) memakai teorinya Einstein bisa dikatakan ‘berlebihan’.¬†Sebab, walaupun akurasinya tinggi, selisih hasil perhitungannya sangat kecil dibandingkan¬†jika menggunakan teori Newton.

Baik teori Newton maupun Einstein, dua-danya adalah model semesta dengan logika matematis dan disusul oleh pembuktian empiris. Keduanya terbukti benar. Tapi yang menarik, ketika ada prediksi yang salah, terkadang ilmuan ngeyel. Mereka akan terus melanjutkanpenelitian dengan model yang ada sampai akhirnya ada model pengganti yang bisa lebih menjelaskan anomali-anomali yang selama ini terjadi.

Apakah teori gravitasi yang kita pelajari di SMA selama ini salah? Mungkin jawabannya adalah pertanyaan lain: memangnya pernah benar?

Penemuan gelombang gravitasi menunjukkan bahwa¬†teori Einstein semakin ‘dikuatkan’ karena prediksinya tepat, dan menjanjikan terbuktinya¬†prediksi-prediksi lain. Ia penting bagi para ilmuan di tapal batas, sebab¬†membuka banyak hal yang mungkin dicapai oleh manusia.¬†Bagaimana dengan kita? Perlukah kita mengerti tentang hal ini?

I think we should. Karena penelitian ini adalah akumulasi dari rasa ingin tahu manusia terhadap alam semesta yang¬†secara sengaja maupun tidak sengaja telah memajukan teknologi yang digunakan untuk melakukaan sejumlah penelitian.¬†Coba bayangkan jika¬†manusia tidak memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi setinggi ini, maka teknologi yang kita miliki¬†saat ini pun tidak akan semaju ini.¬†Sangat banyak teknologi yang awalnya hanya dimiliki oleh ‘laboratorium’ ilmuan yang akhirnya diadaptasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saja tekologi NASA yang fokusnya sering diasosiasikan dengan space exploration, dalam upaya ternyata menghasilkan hal-hal yang selama ini kita anggap biasa dan¬†sederhana seperti kacamata antigores plastik, sol sepatu dan¬†smoke detector¬†http://list25.com/25-coolest-nasa-discoveries-that-changed-your-life/.¬†Contoh simpelnya adalah bahan bakar mobil.¬†Umumnya listrik di rumah¬†masih menggunakan bahan bakar fosil. Tapi sekarang, terimakasih kepada NASA yang ingin¬†keluar¬†angkasa¬†dengan efisien, akhirnya kita memiliki alternatif energi lain yakni solar panel. Contoh lain adalah¬†peralata pemadam kebakaran.

Kira-kira apa yang¬†terjad jika rakyat Amerika Serikat¬†menolak¬†upaya pemerintahnya untuk¬†mengembangkan ilmu pengetahuan? (Gelombang gravitasi ditemukan oleh ilmuan di LIGO yang dibiayai oleh NFS, yakni peerintah amerika). Misalnya dengan menyatakan bahwa dana¬†anggaran¬†terlalu besar unutuk membuktikan hal yang ‘sepele’ seperti terbang ke bulan, dan hal-hal lain yang lebih¬†perlu untuk¬†diperhatikan, seperti¬†pemerataan kualitas¬†sekolah atau subsidi petani.

Well, untungnya, (sebagian) masyarakat di sana peduli terhadap penelitian dan ilmu pengetahuan sehingga bahkan rakyat yang meminta agar dana yang dialokasikan di bidang itu ditambah. Ini adalah perbedaan yang penting. Jika kita tidak mengerti signifikansi majunya ilmu pengetahuan, maka kecil kemungkinan kita akan peduli, lebih lebih ikut berpartispasi. Ilmu pengetahuan bisa jadi variabel yang kita abaikan saat membuat skala prioritas karena terlihat kecil, padahal masalahnya adalah ketidak-tahuan kita.

Masih banyak teknologi yang ‘mungkin’ lahir dari laboratorium para ilmuan dan¬†bepartisipasi dalam menghasilkan kehidupan umat manusia yang lebih baik. Itu semua tidak akan terwujud jika kita tidak terus mendorong¬†ujung batas pengetahuan kita, bersama-sama, baik sebagai¬†ilmuan¬†yang bergelut langsung di bidangnya maupun rakyat biasa yang ikut¬†menentukan terlaksananya pertaruhan tersebut.

End-of-the-peer review?

srhe

By Paul Temple

Peer review has been in the news recently (well, what counts as news in our business): which perhaps isn‚Äôt surprising considering the effect it can have on academic careers ‚Äď and much more besides.

Richard Smith, when editor of the BMJ, conducted an experiment by deliberately inserting errors into a paper (presumably one written specially for the occasion ‚Äď this isn‚Äôt made clear!) and sending it to reviewers who were in the dark about what was going on. (A university ethics committee would have had fun with this.) None of the chosen reviewers apparently spotted all the errors: from which (along with other findings) Smith concluded that ‚Äúpeer review simply doesn‚Äôt work‚ÄĚ (THE, 28 May 2015). But one of the reviewers, Trisha Greenhalgh of Oxford University, presents the same facts in an interestingly different light (THE, 4 June 2015). She spotted a‚Ķ

View original post 434 more words

Fiction Writers and what Makes them Amazing

I am a grad students with many assignments‚Ää‚ÄĒ‚Äänot that many but I like to see it from the bright side‚Ää‚ÄĒ‚Ääthat force me to read articles and books before write anything. I have to put citations an referring to certain writing to strengthen my idea, to prove my view on the worlds. But for fiction writer, this cycle is different.

They write about the(ir) world and everything inside. It would be filled with a lot of phenomenons. Some of them come from observation to the world, some of them from self research (without the need to make citation), or even tacitly gained knowledge. They tailored them to suit their imaginations.

Some good writer capture those phenomenon strikingly similar to our perception of the world in front of us or in our head. From romantic, politic to science fiction. The more relate-able story to us, the more chance that we like those stories. Writers able to capture their realities and projecting it to a writing piece. Basically, that‚Äôs what interpreter in social research do, but less literary and more strict with methods. And maybe, that‚Äôs also, how we see how ‚Äėgood‚Äô a fiction writer is.

To be frank, we’re still trying to figure out our reality even until now. We rarely read journals of all the stuffs happening in the world to make sure our realities is the same with others. But to have it composed in a single book (or many volumes that we cannot stop reading), is like being assured that someone else is seeing the same world. That we are not alone. Though we rarely realize that.

And when things is not going right in a fiction, two things:everyone have their own realities to see what is ‚Äėgoing right or not‚Äô, and, it‚Äôs a fiction.

And in that way, fiction writer are just amazing.

Pendidikan Sains adalah Sejarah dan Bahasa

Sedikit siswa SMA dari jurusan IPA (baru-baru ini berubah menjadi sains atau alam) yang pernah lupa bagaimana rasanya stress menghadapi ujian nasional. Sekian banyak istilah yang harus diingat, rumus yang harus dihapal dengan berbagai simbol asing dan mekanisme-mekanisme alam yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kita rasa jumpai di sekeliling kita (siapa yang ingat tentang pola interferensi Young?). Tapi kita semua berusaha untuk lulus: sekolah mengadakan les tambahan, ikut les di luar, belajar sampai rasanya cukup walaupun mungkin orang tua dan guru kita menganggap usaha kita masih kurang.

Sulit rasanya memisahkan pendidikan sains dengan gambaran-gambaran tersebut. Situasi yang membuat munculnya berbagai ungkapan tentang bagaimana pelajaran IPA sebenarnya tidak pernah mengajarkan hal-hal yang bermanfaat langsung dalam hidup.

Berbicara tentang pendidikan sains di sekolah, kita mau-tidak mau harus melihat bagaimana kurikulum suatu mata peajaran di bentuk. Di Indonesia, sains di sekolah terbagi menjadi tiga kelompok besar : Fisika, Kimia dan Biologi. Selama puluhan tahun, tiga kelompok besar ini terus bertahan bersama dengan beragai subjek pelajaran yang lain (ekonomi, geografi dll) sampai baru-baru ini muncul adanya upaya untuk menyamarkan garis demarkasi antar disiplin ilmu oleh kurikulum 2013.

Namun disaat yang bersamaan, banyak pihak setuju dengan pandangan membuat pelajaran menjadi lebih kontekstual, melihat pada situasi nyata yang lebih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Adanya batasan antar subjek pelajaran membuat munculnya masalah terkait relevansi pelajaran terhadap topik di kehidupan nyata. Misalnya, dalam pelajaran biologi di lakukan diskusi tentang pemanasan global, isu aktual yang berhubungan dengan kehidupan siswa.

Pada kenyataannya diskusi semacam ini tidak akan bisa memisahkan diri dari berbagai situasi non-biologi lain yang terlibat : geografi, ekonomi, sosial dan politik. Banyaknya kombinasi antar disiplin ilmu mengakibatkan proses pembelajaran semacam ini sering dihindari karena dianggap membuat siswa tidak fokus terhadap konten Biologi dan guru menganggap diri mereka tidak cukup kompeten untuk membahas subjek lain di luar mata pelajaran yang mereka ajarkan.

Dari paparan tersebut, tergambar sebuah paradoks: Ilmu tentang kehidupan yang diajarkan di sekolah telah di pisah-pisahkan menjadi subjek-subjek terpisah dan di cabut dari konteksnya. Sehingga tidak aneh jika muncul hubungan (yang menjadi masalah) antar disiplin ilmu saat mengajarkannya kembali dalam konteksnya.

Apa tujuan dari pendidikan sains? Apa yang seharusnya diajarkan dalam pelajaran sains? dilanjutkan dengan pertanyaan apa yang dimaksud dengan sains? Pertanyaan ini tentu akan berujung pada pertanyaan filosofis yang tak berujung, yang selama ini dijawab oleh sistem pendidikan di banyak negara dengan pandangan positivistik yang kuat. Jawaban yang seharusnya dipertanyakan oleh semua kalangan karena mau tidak mau kehidupan kita semua bergantung pada hal ini. Jawaban yang selama ini membuat kita semua tersandung oleh gajah dalam ruangan: evaluasi dan assesmen.

Sesuatu dianggap sebagai sains jika mengikuti cara berpikir yang sistematis, adanya hipotesis, analisis, interpretasi data dan kesimpulan yang untuk sementara kita anggap sebagai penjelasan atas dunia yang kita tinggali. Jika ini menjadi dasar pendidikan sains, maka pada hakikatnya pendidikan sains tidak lagi menjadi proses transfer ilmu antar guru dan siswa, namun proses pembudayaan oleh guru terhadap cara berpikir siswa. Lingkungan, proses pendidikan, assesmen dan evaluasi akan berubah seiring dengan pandangan ini.

Apakah ini artinya siswa dalam pendidikan akan berhenti mempelajari Fisika, Kimia, dan Biologi seperti yang selama ini dilakukan? Bisa jadi. Bayangkan pendidikan tematik kontekstual (yang baru dirancang untuk SD di Kurikulum 2013)  yang mengintegrasi antar disiplin ilmu, namun pada hakikatnya masih memegang prinsip sains dan ketidak pastiannya. Tentu saja untuk merealisasikannya dalam bentuk kurikulum memerlukan banyak energi dan pemikiran yang lebih holistik dan mendalam tentang situasi saat ini (yang tidak akan terlepas dari berbagai kepentingan sosial lainnya).

Dengan pandangan ini, kita semua harus siap menerima bahwa sains bukan lagi pelajaran bahasa seperti yang selama ini terjadi, namun pelajaran sejarah yang akan terus berubah dari masa ke masa.

Twentysomething’s Anxiety

It was Jamie Cullum’s song, Twentysomething, that I used to hum often, but only recently understand by heart. The lyric is something like this: The world turned out to be a place that doesn’t really need scholars, so I’ll just go with the flow of life while doing things that might be useful like, working, going to gym, fall in love and hang out at night. I feel it happening so much to us, the twentysomething, right now .

Some of my friends drown them self in work 7 to 3, or 9 to 5, 6 day a week. Barely there to engage in meetups with friends. Worrying about marriage deadline (Maybe I‚Äôll just fall in love¬†, that could solve all‚ÄĒ Jamie Cullum). Some other keep busy posting selfies of their adventure in some mount in the middle of of the wilderness. Living their life, as they call it (maybe I‚Äôll go travelling‚Ķ finding myself, or, start a career‚Ää‚ÄĒ‚ÄäJamie Cullum). There are also those friends who often hang out in fancy coffee shop until late night, discussing about life and career goals that they have not started yet.

Being twentysomething is tough. It is the phase of the life when we actually get inside to the society and surprised of what’s actually waiting in the real world. Start to live independently, making our own choices. Some of us might take haste decision in the process, while the others have not pick anything because of bewildered by choices they thought the have (because, I found that success is a a mutual thing, you choose the opportunity, the opportunity also must choose you).

As for me, I‚Äôm not yet actually living independently. I still live with my parents, currently preparing for my master degree almost right after I graduated from my undergraduate study. Wishing that maybe after another year of study I‚Äôll get a bigger and better opportunity in work. Planning on saving some scholarship money for future entrepreneurship and social project. Hoping to meet a soulmate in the process. Make a good living, not a dull living. Still going out, taking care things, creating things, hopefully making a world a better place (I’m a teacher, that spot’s primary obligation).

You see, I’m a twentysomething! Plans and dreams!

Kuliah S2 dan Hitung-Hitungan (Dana Pribadi) Beasiswa

Beasiswa juga harus tetep punya modal, nggak bisa ngarepin semuanya bisa langsung ditanggung full–Bu Iday/Dosen FKIP pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat

Sebagian orang sudah tahu, bahwa sebelum  mendapatkan beasiswa in aku sebenarnya sudah berkuliah selama 1 semester di Universitas Lambung Mangkurat di Magister Pendidikan Biologi. And then LPDP happened. Atas berbagai pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berkuliah.

Sebagian orang yang tahu pun ikut bertanya-tanya, kok berhenti sih? Kenapa nggak dilanjutin aja kuliahnya? Kadang aku agak bingung bagaimana cara menjawabnya karena ada perhitungan yang cukup¬†panjang sebelum aku memutskan untuk mengambil pilihan ini . I always end up saying: “Sayang uangnya, kalau dengan dana yang sama bisa kuliah sambil jalan-jalan.,”

I was never intended to write about this, soalnya kupikir orang mungkin ngerti kok apa yang aku maksud dalam kalimat tadi. Until now.

I don’t think anyone will understand sampai ngalamin sendiri gimana rasanya diminta bayar deposit ¬£500¬†bahkan sebelum bikin visa (which is kalau di LPDP, visa jadi tiket pertama buat dapat biaya kedatangan 1).

So, here it is, itung-itungan keputusan mulai dari sejak lulus kuliah sampai sekarang (dapat LoA, nunggu CAS, dapat offer akomodasi).

Perkiraan kuliah di dalam negeri, setidaknya untuk di magister Pendidikan Biologi Unlam adalah sekitar 7-8 juta rupiah untuk satu semester. Ini termasuk SPP sebesar 3 jutaan dan dana sumbangan sekitar 4 juta untuk tahap pertama (bisa dibayar tiga kali angsuran bersamaan dengan bayar SPP). Ada lagi uang transport PP Banjarbaru-Banjarmasin yang amannya dihitung 3 liter pulang pergi per minggu selama 4-6 bulan(setelah dihitung-hitung) + biaya gono gini. Oiya, ada juga field trip ke jawa 1 kali, berapa ya, 3-5 juta, lupa. Jadi kira-kira minimal akan habis sekitar 25 jutaan.

Sisi yang paling tidak  mengenakkan drai halini adalah kuliah S2 ini nggak self-funded, ada sponsor, yakni ortu. Hehehe. Makanya aku mengangap ini bukan kesempatan kuliahnya, tapi dilihat dari nilai nominal yang digunakan dan apa yang bisa aku dapat. Seperti young-adult pemilih lainnya, aku juga memperhitungkan, bisa dapet lebih nggak sih dengan dana sebesar itu.

Karena itulah aku daftar beasiswa LPDP, dua kali, dan it turns out aku lulus. Saat itu perkuliahan di Unlam kalau nggak salah sudah berada di penghujung semester 1. Seleksi LPDP pertama yang aku ikuti di sekitar bulan Juni. Administrasi lulus, mengharuskan aku ke Jakarta untuk seleksi wawancara karena sepertinya pendaftar beasiswa di banjarmasin tidak cukup banyak. Aku tidak lulus, pulang dengan tangan hampa (eaaa).

Kemudian di Agustus aku mendaftar lagi beasiswa LPDP untuk kategori BPRI. Yang kembali lulus seleksi administrasi dan harus ke jakarta untuk wawancara karena BPRI memang hanya mengadakan wawancara di Jakarta untuk suatu alasan.

Dipertengahan itu aku sudah mulai menghitung, berapa biaya untuk seleksi ke Jakarta lagi (2-3 jutaan untuk biaya pesawat, transport, akomodasi dan makan), berapa biaya untuk ikut tes TOEFL ITP (saat itu baru 300 an). Dan biayanya lumayan besar. Saat itulah aku memutuskan untuk ‘memakai dana kuliah di semester ¬†2’ untuk ‘urusan seleksi’, dengan niat, ‘kalo nggak lulus lagi, aku bakal tetep berhenti kuliah S2 dan memilih kerja dulu biar bisa S2 an pakai dana sendiri,’. Tapi karena masih takut/ragu, aku belum benar-benar berhenti tapi cuma ‘bilang cuti’. disebut seperti itu karena walaupun cuti aku tetap tidak bayar sekian persen biaya spp cuti.

Alhamdulillah lulus. Karena lulus, aku jadi harus ikut tes ke 3 dan PK  sekitar 1 bulan setelah itu. Ke Jakarta lagiiii. (ayoo hitung). Akhirnya aku memantapkan hati untuk benar-benar berhenti dan tidak bayar uang cuti apapun ke kampus karena hitung-hitungan ini.

Kemudian perjuangan di mulai. Saat aku lulus BPRI, aku masih belum lulus di University of Melbourne. Salah satu persyaratan adalah aku harus mensubmit skor IELTS atau TOEFL iBT dan bukannya iTP seperti yang sudah kuambil (saat itu, iTP adalah syarat dari AAS, beasiswa australia yang juga aku apply sebelumnya). Setelah berbagai pertimbangan akhirnya aku mendaftar di UniMelb dan memilih untuk mengambil tes bahasa inggris satunya lagi: IELTS. Alasannya karena kalau ditolak di UniMelb, universitas tujuanku selanjutnya berada di Inggris yang umumnya hanya menerima IELTS sejak tahun 2013.

Dana untuk IELTS saat itu 2,1 juta di IDP (kayaknya di british council lebih murah, 1,8(?) tapi seatnya terbatas). Dana banjarmasin-jakarta-banjarmasin hitunglah lagi 2-6 juta (tambah biaya jalan-jalan, hehehe).

dari semua band, semua sudah diatas 7, kecuali writing yang cuma 5,5 T_T.

SARAN: AMBIL PERCOBAAN DULU SEBELUM AMBIL IELTS BENERAN.

Akhirnya harus ngambil IELTS lagi, karena batas minimum di UniMelb fakultas pendidikannya adalah 6,5 untuk setiap band.

Hitung aja lagi kira-kira habis berapa ūüėÄ

kemudian ada pesan masuk ke email, yang ngasih berita bahwa aku conditionally accepted tapi bukan dijurusan yang aku mau (Pendidikan MIPA) karena mata kuliah S1 nya nggak cocok dengan mata kuliah prasyarat untuk ngambil jurusan yang aku mau. Mereka kasih offer untuk ke Pendidikan guru SD yang akhirnya juga nggak bisa diambil karenaaaa

hasil IELTS kedua akhirnya terjadi perubahan menggalaukan. Tiba-tiba listeningnya turun jadi 6 T_T padahal writingnya sudah 6,5.

That’s how God guide me back to my first choice, Institute of Education (IoE), London. IoE awalnya ngga termasuk ke dalam list¬†50 besar LPDP saat aku lulus beasiswa di 2013 (jadi nggak bisa milih itu), tapi setelah tahun 2014, mereka merger¬†dengan University College London, yang ada dalam list sehingga akhirnya bisa daftar ke situ.

Sekitar April, aku sudah dapat kabar bahwa aku diterima di IoE. Alhamdulillah. Sejak saat itu sudah mulai mengkhayal berangkat, termasuk di dalamnya urusan visa dan belajar nyari akomodasi.

And now, aku sudah dapat offer akomodasi dan diminta bayar deposit¬†500 poundsterling. Oh meen… Kurs saat ini menunjukkan 1 pondsterling sama dengan 21,1 sekian ribu rupiah beberapa¬†minggu yang lalu cuma 19 rebu…….

Dan sampai saat ini aku belum dapat uang sepeser pun dari LPDP, karena Settlement Allowance pertama baru akan dibayar setengahnya setelah bikin visa.

Yes sodara-sodara, visa bayar sendiri dulu juga bikinnya. Visa ke UK kira- kira 7 juta visa dan 4 juta NHS +_+.

Jadi gimana yaaa… Inilah dasar dari keputusan berhenti S2 itu. Aku bahkan nggak nyangka bakal jadi sebesar ini. Aku bersyukur punya orang tua yang supportif dan berkecukupan.

Tulisan ini diawali dengan kutipan dari dosen pas aku masih kuliah S1 di semester 5. Benar sekali pesan beliau.

Terakhir, jika ada yang bertanya, nggak nyesel sudah sempat S2 di sini 1 semester, kan tinggal 1 tahun lagi. Nggak negrasa sia-sia?

Iya, bener, tinggal 1 tahun lagi dan mestinya saat nulis postingan ini aku sudah nyiapin proposal thesis. Ngerasa sia-sia? Enggak pernah.

Karena kuliah di S2 di Unlam memberi banyak bekal untuk bisa sampai di titik ini. Semua diskusi, tugas dan review jurnal sudah banyak membantu dalam bikin esai, tes IELTS, pendaftaran di semua uni, sampai bikin personal statement. Nggak ada penyesalan dan nggak ada yang sia-sia.

Namun tulisan ini dibuat biar ngasih tau teman-teman yang lain, especially mereka yang sangat budget-wise dalam perencanaan kehidupannya, supaya bisa memperkirakan, kepake uang pribadinya habis segini loh. Bukan buat nakutin, tapi biar siap dengan segala kemungkinan.

Oh iya, LPDP mengcover biaya bikin visa kok, sejak dari bikin visa LPDP sudah cover (buat yang mau ke amerika LPDP juga menggratiskan biaya GRE). Uang yang kepake untuk bikin visa akan di reimburse. Tapi nggak untuk tes IELTS. Selain itu juga dapat settlement allowance/biaya kedatangan sebesar dua kali living allowance sebagai ganti harta gono gini yang kepake buat persiapan berangkat dan persiapan tinggal disana. jadi ntar kalo sudah enroll di uni kita udah bisa minta SA 2 + living allowance untuk 3 bulan *siap program bayar hutang*.

Semoga bisa¬†membantu dalam pemetaan pendanaan kuliahnya yaa. ūüôā