To the graduate who wants to work in international affairs

Vagas Relações Internacionais

By Morgan Courtney

…Some hard truths and advice for the job search

Over the years, a lot of college students and young grads have come to me asking how to get a job in international affairs or development. They have bright hopes for a first job at a think tank, or a position writing legislation, or field work in a developing country — but they don’t know how to get there. I, too, was that bushy-tailed graduate once, and over time, I learned — from myself and the travails of those hewing similar paths — that despite the myriad ways people build careers in this field, there are some best practices.

Here’s a synopsis of the advice I have passed on to new graduates:

Unpaid internships are the WORST, but they are usually the path to getting hired.

There’s a lot of talk about the inequity of unpaid internships, and how they enable those with means…

View original post 2,722 more words

Advertisements

PICK YOUR BATTLES

Dr. Nancy Wayne

There are periods in our lives where it seems that every time we roll out of bed, we need to gird ourselves for battle. Battle at work, battle at home, battle on the freeways, battle at the grocery store. But let’s face it, not every potential fight is worth engaging in. It’s not always easy to determine when to throw yourself into the fray, and when to back off and let the (perceived) problem slide.

Perlmutter (2010) suggests a series of questions to ask yourself before engaging in battle.

  • Who is in the right? Step back and think about your antagonist’s and your motivations
  • What is the best possible timing of your response? Does this require an immediate response or should you mull over your strategy?
  • Who will be your allies in battle? Why should they come to your aid?
  • Do you know the power and allies of your antagonist?

View original post 621 more words

Fana

Mencintai adalah caranya menyambung hidup
Seperti tabung oksigen yang hanya dibutuhkan
Ketika napasnya sudah tersengal-sengal
Ketika persahabatan dan persaingan punah
Dan iri dengki tiba-tiba usai

Agar hidupnya lebih panjang
Ia memilih mencintai misteri
Kegelapan pekat yang membuatnya tak bisa melihat
Atau kehampaan yang tidak bisa ia gapai
Ia keledai dengan wortel merah
bergantung di depan hidungnya

Tapi gua selalu memiliki celah cahaya
Dan ruang angkasa adalah perihal rekaan manusia
Tali temali putus ketika sudah habis usia

Jeritan burung muda lahir dari tumpukan abunya

End-of-the-peer review?

srhe

By Paul Temple

Peer review has been in the news recently (well, what counts as news in our business): which perhaps isn’t surprising considering the effect it can have on academic careers – and much more besides.

Richard Smith, when editor of the BMJ, conducted an experiment by deliberately inserting errors into a paper (presumably one written specially for the occasion – this isn’t made clear!) and sending it to reviewers who were in the dark about what was going on. (A university ethics committee would have had fun with this.) None of the chosen reviewers apparently spotted all the errors: from which (along with other findings) Smith concluded that “peer review simply doesn’t work” (THE, 28 May 2015). But one of the reviewers, Trisha Greenhalgh of Oxford University, presents the same facts in an interestingly different light (THE, 4 June 2015). She spotted a…

View original post 434 more words

Fiction Writers and what Makes them Amazing

I am a grad students with many assignments — not that many but I like to see it from the bright side — that force me to read articles and books before write anything. I have to put citations an referring to certain writing to strengthen my idea, to prove my view on the worlds. But for fiction writer, this cycle is different.

They write about the(ir) world and everything inside. It would be filled with a lot of phenomenons. Some of them come from observation to the world, some of them from self research (without the need to make citation), or even tacitly gained knowledge. They tailored them to suit their imaginations.

Some good writer capture those phenomenon strikingly similar to our perception of the world in front of us or in our head. From romantic, politic to science fiction. The more relate-able story to us, the more chance that we like those stories. Writers able to capture their realities and projecting it to a writing piece. Basically, that’s what interpreter in social research do, but less literary and more strict with methods. And maybe, that’s also, how we see how ‘good’ a fiction writer is.

To be frank, we’re still trying to figure out our reality even until now. We rarely read journals of all the stuffs happening in the world to make sure our realities is the same with others. But to have it composed in a single book (or many volumes that we cannot stop reading), is like being assured that someone else is seeing the same world. That we are not alone. Though we rarely realize that.

And when things is not going right in a fiction, two things:everyone have their own realities to see what is ‘going right or not’, and, it’s a fiction.

And in that way, fiction writer are just amazing.

Pendidikan Sains adalah Sejarah dan Bahasa

Sedikit siswa SMA dari jurusan IPA (baru-baru ini berubah menjadi sains atau alam) yang pernah lupa bagaimana rasanya stress menghadapi ujian nasional. Sekian banyak istilah yang harus diingat, rumus yang harus dihapal dengan berbagai simbol asing dan mekanisme-mekanisme alam yang sebenarnya tidak pernah benar-benar kita rasa jumpai di sekeliling kita (siapa yang ingat tentang pola interferensi Young?). Tapi kita semua berusaha untuk lulus: sekolah mengadakan les tambahan, ikut les di luar, belajar sampai rasanya cukup walaupun mungkin orang tua dan guru kita menganggap usaha kita masih kurang.

Sulit rasanya memisahkan pendidikan sains dengan gambaran-gambaran tersebut. Situasi yang membuat munculnya berbagai ungkapan tentang bagaimana pelajaran IPA sebenarnya tidak pernah mengajarkan hal-hal yang bermanfaat langsung dalam hidup.

Berbicara tentang pendidikan sains di sekolah, kita mau-tidak mau harus melihat bagaimana kurikulum suatu mata peajaran di bentuk. Di Indonesia, sains di sekolah terbagi menjadi tiga kelompok besar : Fisika, Kimia dan Biologi. Selama puluhan tahun, tiga kelompok besar ini terus bertahan bersama dengan beragai subjek pelajaran yang lain (ekonomi, geografi dll) sampai baru-baru ini muncul adanya upaya untuk menyamarkan garis demarkasi antar disiplin ilmu oleh kurikulum 2013.

Namun disaat yang bersamaan, banyak pihak setuju dengan pandangan membuat pelajaran menjadi lebih kontekstual, melihat pada situasi nyata yang lebih berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Adanya batasan antar subjek pelajaran membuat munculnya masalah terkait relevansi pelajaran terhadap topik di kehidupan nyata. Misalnya, dalam pelajaran biologi di lakukan diskusi tentang pemanasan global, isu aktual yang berhubungan dengan kehidupan siswa.

Pada kenyataannya diskusi semacam ini tidak akan bisa memisahkan diri dari berbagai situasi non-biologi lain yang terlibat : geografi, ekonomi, sosial dan politik. Banyaknya kombinasi antar disiplin ilmu mengakibatkan proses pembelajaran semacam ini sering dihindari karena dianggap membuat siswa tidak fokus terhadap konten Biologi dan guru menganggap diri mereka tidak cukup kompeten untuk membahas subjek lain di luar mata pelajaran yang mereka ajarkan.

Dari paparan tersebut, tergambar sebuah paradoks: Ilmu tentang kehidupan yang diajarkan di sekolah telah di pisah-pisahkan menjadi subjek-subjek terpisah dan di cabut dari konteksnya. Sehingga tidak aneh jika muncul hubungan (yang menjadi masalah) antar disiplin ilmu saat mengajarkannya kembali dalam konteksnya.

Apa tujuan dari pendidikan sains? Apa yang seharusnya diajarkan dalam pelajaran sains? dilanjutkan dengan pertanyaan apa yang dimaksud dengan sains? Pertanyaan ini tentu akan berujung pada pertanyaan filosofis yang tak berujung, yang selama ini dijawab oleh sistem pendidikan di banyak negara dengan pandangan positivistik yang kuat. Jawaban yang seharusnya dipertanyakan oleh semua kalangan karena mau tidak mau kehidupan kita semua bergantung pada hal ini. Jawaban yang selama ini membuat kita semua tersandung oleh gajah dalam ruangan: evaluasi dan assesmen.

Sesuatu dianggap sebagai sains jika mengikuti cara berpikir yang sistematis, adanya hipotesis, analisis, interpretasi data dan kesimpulan yang untuk sementara kita anggap sebagai penjelasan atas dunia yang kita tinggali. Jika ini menjadi dasar pendidikan sains, maka pada hakikatnya pendidikan sains tidak lagi menjadi proses transfer ilmu antar guru dan siswa, namun proses pembudayaan oleh guru terhadap cara berpikir siswa. Lingkungan, proses pendidikan, assesmen dan evaluasi akan berubah seiring dengan pandangan ini.

Apakah ini artinya siswa dalam pendidikan akan berhenti mempelajari Fisika, Kimia, dan Biologi seperti yang selama ini dilakukan? Bisa jadi. Bayangkan pendidikan tematik kontekstual (yang baru dirancang untuk SD di Kurikulum 2013)  yang mengintegrasi antar disiplin ilmu, namun pada hakikatnya masih memegang prinsip sains dan ketidak pastiannya. Tentu saja untuk merealisasikannya dalam bentuk kurikulum memerlukan banyak energi dan pemikiran yang lebih holistik dan mendalam tentang situasi saat ini (yang tidak akan terlepas dari berbagai kepentingan sosial lainnya).

Dengan pandangan ini, kita semua harus siap menerima bahwa sains bukan lagi pelajaran bahasa seperti yang selama ini terjadi, namun pelajaran sejarah yang akan terus berubah dari masa ke masa.

Kuliah S2 dan Hitung-Hitungan (Dana Pribadi) Beasiswa

Beasiswa juga harus tetep punya modal, nggak bisa ngarepin semuanya bisa langsung ditanggung full–Bu Iday/Dosen FKIP pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat

Sebagian orang sudah tahu, bahwa sebelum  mendapatkan beasiswa in aku sebenarnya sudah berkuliah selama 1 semester di Universitas Lambung Mangkurat di Magister Pendidikan Biologi. And then LPDP happened. Atas berbagai pertimbangan akhirnya aku memutuskan untuk berhenti berkuliah.

Sebagian orang yang tahu pun ikut bertanya-tanya, kok berhenti sih? Kenapa nggak dilanjutin aja kuliahnya? Kadang aku agak bingung bagaimana cara menjawabnya karena ada perhitungan yang cukup panjang sebelum aku memutskan untuk mengambil pilihan ini . I always end up saying: “Sayang uangnya, kalau dengan dana yang sama bisa kuliah sambil jalan-jalan.,”

I was never intended to write about this, soalnya kupikir orang mungkin ngerti kok apa yang aku maksud dalam kalimat tadi. Until now.

I don’t think anyone will understand sampai ngalamin sendiri gimana rasanya diminta bayar deposit £500 bahkan sebelum bikin visa (which is kalau di LPDP, visa jadi tiket pertama buat dapat biaya kedatangan 1).

So, here it is, itung-itungan keputusan mulai dari sejak lulus kuliah sampai sekarang (dapat LoA, nunggu CAS, dapat offer akomodasi).

Perkiraan kuliah di dalam negeri, setidaknya untuk di magister Pendidikan Biologi Unlam adalah sekitar 7-8 juta rupiah untuk satu semester. Ini termasuk SPP sebesar 3 jutaan dan dana sumbangan sekitar 4 juta untuk tahap pertama (bisa dibayar tiga kali angsuran bersamaan dengan bayar SPP). Ada lagi uang transport PP Banjarbaru-Banjarmasin yang amannya dihitung 3 liter pulang pergi per minggu selama 4-6 bulan(setelah dihitung-hitung) + biaya gono gini. Oiya, ada juga field trip ke jawa 1 kali, berapa ya, 3-5 juta, lupa. Jadi kira-kira minimal akan habis sekitar 25 jutaan.

Sisi yang paling tidak  mengenakkan drai halini adalah kuliah S2 ini nggak self-funded, ada sponsor, yakni ortu. Hehehe. Makanya aku mengangap ini bukan kesempatan kuliahnya, tapi dilihat dari nilai nominal yang digunakan dan apa yang bisa aku dapat. Seperti young-adult pemilih lainnya, aku juga memperhitungkan, bisa dapet lebih nggak sih dengan dana sebesar itu.

Karena itulah aku daftar beasiswa LPDP, dua kali, dan it turns out aku lulus. Saat itu perkuliahan di Unlam kalau nggak salah sudah berada di penghujung semester 1. Seleksi LPDP pertama yang aku ikuti di sekitar bulan Juni. Administrasi lulus, mengharuskan aku ke Jakarta untuk seleksi wawancara karena sepertinya pendaftar beasiswa di banjarmasin tidak cukup banyak. Aku tidak lulus, pulang dengan tangan hampa (eaaa).

Kemudian di Agustus aku mendaftar lagi beasiswa LPDP untuk kategori BPRI. Yang kembali lulus seleksi administrasi dan harus ke jakarta untuk wawancara karena BPRI memang hanya mengadakan wawancara di Jakarta untuk suatu alasan.

Dipertengahan itu aku sudah mulai menghitung, berapa biaya untuk seleksi ke Jakarta lagi (2-3 jutaan untuk biaya pesawat, transport, akomodasi dan makan), berapa biaya untuk ikut tes TOEFL ITP (saat itu baru 300 an). Dan biayanya lumayan besar. Saat itulah aku memutuskan untuk ‘memakai dana kuliah di semester  2’ untuk ‘urusan seleksi’, dengan niat, ‘kalo nggak lulus lagi, aku bakal tetep berhenti kuliah S2 dan memilih kerja dulu biar bisa S2 an pakai dana sendiri,’. Tapi karena masih takut/ragu, aku belum benar-benar berhenti tapi cuma ‘bilang cuti’. disebut seperti itu karena walaupun cuti aku tetap tidak bayar sekian persen biaya spp cuti.

Alhamdulillah lulus. Karena lulus, aku jadi harus ikut tes ke 3 dan PK  sekitar 1 bulan setelah itu. Ke Jakarta lagiiii. (ayoo hitung). Akhirnya aku memantapkan hati untuk benar-benar berhenti dan tidak bayar uang cuti apapun ke kampus karena hitung-hitungan ini.

Kemudian perjuangan di mulai. Saat aku lulus BPRI, aku masih belum lulus di University of Melbourne. Salah satu persyaratan adalah aku harus mensubmit skor IELTS atau TOEFL iBT dan bukannya iTP seperti yang sudah kuambil (saat itu, iTP adalah syarat dari AAS, beasiswa australia yang juga aku apply sebelumnya). Setelah berbagai pertimbangan akhirnya aku mendaftar di UniMelb dan memilih untuk mengambil tes bahasa inggris satunya lagi: IELTS. Alasannya karena kalau ditolak di UniMelb, universitas tujuanku selanjutnya berada di Inggris yang umumnya hanya menerima IELTS sejak tahun 2013.

Dana untuk IELTS saat itu 2,1 juta di IDP (kayaknya di british council lebih murah, 1,8(?) tapi seatnya terbatas). Dana banjarmasin-jakarta-banjarmasin hitunglah lagi 2-6 juta (tambah biaya jalan-jalan, hehehe).

dari semua band, semua sudah diatas 7, kecuali writing yang cuma 5,5 T_T.

SARAN: AMBIL PERCOBAAN DULU SEBELUM AMBIL IELTS BENERAN.

Akhirnya harus ngambil IELTS lagi, karena batas minimum di UniMelb fakultas pendidikannya adalah 6,5 untuk setiap band.

Hitung aja lagi kira-kira habis berapa 😀

kemudian ada pesan masuk ke email, yang ngasih berita bahwa aku conditionally accepted tapi bukan dijurusan yang aku mau (Pendidikan MIPA) karena mata kuliah S1 nya nggak cocok dengan mata kuliah prasyarat untuk ngambil jurusan yang aku mau. Mereka kasih offer untuk ke Pendidikan guru SD yang akhirnya juga nggak bisa diambil karenaaaa

hasil IELTS kedua akhirnya terjadi perubahan menggalaukan. Tiba-tiba listeningnya turun jadi 6 T_T padahal writingnya sudah 6,5.

That’s how God guide me back to my first choice, Institute of Education (IoE), London. IoE awalnya ngga termasuk ke dalam list 50 besar LPDP saat aku lulus beasiswa di 2013 (jadi nggak bisa milih itu), tapi setelah tahun 2014, mereka merger dengan University College London, yang ada dalam list sehingga akhirnya bisa daftar ke situ.

Sekitar April, aku sudah dapat kabar bahwa aku diterima di IoE. Alhamdulillah. Sejak saat itu sudah mulai mengkhayal berangkat, termasuk di dalamnya urusan visa dan belajar nyari akomodasi.

And now, aku sudah dapat offer akomodasi dan diminta bayar deposit 500 poundsterling. Oh meen… Kurs saat ini menunjukkan 1 pondsterling sama dengan 21,1 sekian ribu rupiah beberapa minggu yang lalu cuma 19 rebu…….

Dan sampai saat ini aku belum dapat uang sepeser pun dari LPDP, karena Settlement Allowance pertama baru akan dibayar setengahnya setelah bikin visa.

Yes sodara-sodara, visa bayar sendiri dulu juga bikinnya. Visa ke UK kira- kira 7 juta visa dan 4 juta NHS +_+.

Jadi gimana yaaa… Inilah dasar dari keputusan berhenti S2 itu. Aku bahkan nggak nyangka bakal jadi sebesar ini. Aku bersyukur punya orang tua yang supportif dan berkecukupan.

Tulisan ini diawali dengan kutipan dari dosen pas aku masih kuliah S1 di semester 5. Benar sekali pesan beliau.

Terakhir, jika ada yang bertanya, nggak nyesel sudah sempat S2 di sini 1 semester, kan tinggal 1 tahun lagi. Nggak negrasa sia-sia?

Iya, bener, tinggal 1 tahun lagi dan mestinya saat nulis postingan ini aku sudah nyiapin proposal thesis. Ngerasa sia-sia? Enggak pernah.

Karena kuliah di S2 di Unlam memberi banyak bekal untuk bisa sampai di titik ini. Semua diskusi, tugas dan review jurnal sudah banyak membantu dalam bikin esai, tes IELTS, pendaftaran di semua uni, sampai bikin personal statement. Nggak ada penyesalan dan nggak ada yang sia-sia.

Namun tulisan ini dibuat biar ngasih tau teman-teman yang lain, especially mereka yang sangat budget-wise dalam perencanaan kehidupannya, supaya bisa memperkirakan, kepake uang pribadinya habis segini loh. Bukan buat nakutin, tapi biar siap dengan segala kemungkinan.

Oh iya, LPDP mengcover biaya bikin visa kok, sejak dari bikin visa LPDP sudah cover (buat yang mau ke amerika LPDP juga menggratiskan biaya GRE). Uang yang kepake untuk bikin visa akan di reimburse. Tapi nggak untuk tes IELTS. Selain itu juga dapat settlement allowance/biaya kedatangan sebesar dua kali living allowance sebagai ganti harta gono gini yang kepake buat persiapan berangkat dan persiapan tinggal disana. jadi ntar kalo sudah enroll di uni kita udah bisa minta SA 2 + living allowance untuk 3 bulan *siap program bayar hutang*.

Semoga bisa membantu dalam pemetaan pendanaan kuliahnya yaa. 🙂