Daniel Handler a.k.a Lemony Snicket

I just feel like writing. Dunno why, but may the force make us live long and prosper *then killed by nerds for mixing 2 sentences*

I like Daniel Handler, he wrote Series of Unfortunate Events with pen name Lemony Snicket. One thing I like from him because he knows how to play with words. In Indonesia, he could be similar to Aan Mansyur.

“The end of THE END is the best place to begin THE END, because if you read THE END from the beginning of the beginning of THE END to the end of the end of THE END, you will arrive at THE END.”

Lemony Snicket-The End

Other reasons, because he’s so bittersweet when he writes about love. As Lemony Snicket, He love Beatrice, deceased woman whom he always remember in every occasions and writings. Let me take some quotes from his 13 volume books.

To Beatrice –

darling, dearest, dead.

 

For Beatrice –

When we were together I felt breathless.

Now you are.

then he also write a book specially for Beatrice, titled Beatrice Letters. Here are some quotes:

Everything. A letter may be coded, and a word may be coded. A theatrical performance may be coded, and a sonnet may be coded, and there are times when it seems the entire world is in code. Some believe that the world can be decoded by performing research in a library. Others believe that the world can be decoded by reading a newspaper. In my case, the only thing that made sense of the world was you, and without you the world will seem as garbled and tragic as a malfunctioning typewrit9.

 

“I never want to be away from you again, except at work, in the restroom or when one of us is at a movie the other does not want to see.”

Then as Daniel Handler

“I have a dream of what would have happened if what happened instead hadn’t.”

Make you think twice doesn’t he? Isn’t he brilliant!!?

At times, when I need escape route, I look for his quotes and sometimes, Neil Gaiman’s. They’re bold, witty, forward, but then again, they’re true. Other times, I’d prefer Arab Poets, Dee, or Goenawan Mohamad.

Anyone who is interested in him could look him up at Goodreads or better, read his books!

Advertisements

McGonagall Letter to Weasley’s Wizard Wheezes

Mr. & Mr. Weasley
Weasley’s Wizard Wheezes
93 Diagon Alley

London
HOGWARTS SCHOOL OF WITCHCRAFT AND WIZARDRY Headmaster: Albus Dumbledore
(Order of Merlin, First Class, Grand Sorc., Chf. Warlock, Supreme Mugwump, International confed. of Wizards)

~

Dear Mr. Fred and George Weasley,

We are greatly pleased by your success at your new joke shop. Allow me to be informal by saying that based on my personal experience with you two, this letter will be shared with each other for a laugh, I’m sure, which is why I’m only sending one to you both. That aside, since you are no longer under my care, I can only go so far as to tell you that it is highly discouraged for any Hogwarts student to purchase any of your items and for you to sell any in turn. However, I know that wouldn’t deter the two of you so I suggest an impasse.

Would you, under the circumstances, encourage Hogwarts students to also purchase one of your Defense Against the Dark Arts items? Especially to the first years. I hear high praises about them from certain Ministry of Magic officials. I’m afraid that with all the publicity the Daily Prophet is giving this situation, parents are more afraid than useful and their anxiety with the whole ordeal has led them to teach their children rather useless spells that would do more harm than good. It would be a great relief for many of us professors to know that our students, at the very least, are safe. You would have done rather well in your N.E.W.T.s.

Please do sell your Defense Against the Dark Arts items to Slytherin students as well.They are, as much as you don’t like them, still Hogwarts students.

Yours Sincerely,

 

 

Minerva McGonagall
Deputy Headmistress

(taken from http://spectacledtabby.tumblr.com/post/6783110442)

Mpret Setegas Kentut

Jika ada satu tokoh novel yang paling aku sukai, maka dia adalah Mpret. Dia adalah satu tokoh dalam novel Supernova: Petir. Novel yang berkali-kali aku baca dan masih selalu tertawa atas lelucon segar dan cerdas dari penulisnya, Dewi Lestari.

Siapa sih si Mpret ini? Mpret, setegas kentut. Nama asli Mpret adalah Toni. Dia bisa dibilang seorang Cybercriminal. Dalam waktu 12 tahun berkelana di dunia cyber, dia sudah menyumbang 10 virus ke daftar Norton Antivirus, mampu mebobol internet banking, menghack situs belanja online. Dulu dia kuliah di Geologi ITB tapi dia hengkang dan akhirnya hidup dengan kemampuanya di dunia cyber.

Masih muda, 20 tahunan. Orangnya sangat menyenangkan. Cara berpakaiannya sama dengan netter maniak lain, pakai kaos dan celana lusuh, rambut tidak rapi. Jangan salah sangka, dia bukan jenis maniak komputer bermata sipit seperti orang-orang elit dengan rumah besar. Kamar kosnya kecil dan nyempil.

Dia punya personality yang sangat menarik. Hobinya selain internet adalah tertawa. Jika melihat matanya, maka semua orang bisa merasa percaya padanya. Untungnya dia bukan jenis penipu, yang ada dia hitungan kalau masalah uang, hingga ke satuan terkecil.

Bicara soal Mpret, selalu secara tidak langsung menguhubungkannya dengan komunitas. Pekerjannya adalah bergaul, temannya sangat banyak, dan jaringan pertemanan ini lama-kelamaan menjadi jaringan semiprofesional dengan pekerja penuh gairah tanpa tekanan kerja dan kreativitas yang tinggi. Mpret yang membantu untuk mengembangkan kemampuan teman-temannya. Mpret bisa dikatakan seorang manusia kunci.

‘Mpret, setegas kentut, Dari menyebut namanya saja kalian sudah bisa meraba, kan? Mpret setegas kentut. Bukan kentut berpanjang-panjang dan berbisik-bisik,tapi yang keras, pendek, dan hadir.’—Elektra, Supernova.

Dan aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Eletra, dia adalah seorang penjahat, yang menyenangkan. Kenapa? Sebab dia menghargai hidup. Bagaimana caranya memandang hidup membuat dia pantas untuk dimaafkan atas segala perbuatan kriminalnya (yang sebagian kecil dari hasil perbuatannya bisa bikin home theatre dengan ruangan kedap suara).

Kalau membayangkan Mpret, aku selalu membayangkan Ijal. Kurus, rambut tidak rapi, sukanya main komputer dan masih sanggup tidak pakai kacamata sampai sekarang. (Minjam nama jal lah, supaya orang nyaman membayangakan).

Ini beberapa line dari novel Supernova:

“Tapi, kok, kamu pelit! Itungan!

la seketika menoleh, dan aku tertegun. Berharap ia akan menatapku bengis, tapi tidak, justru matanya bersinar lembut. Seolah memandang jabang bayi. Tra, mana bisa gua pelit? ujarnya. Teliti, iya. Tapi tidak pernah pelit. Apa yang mau gua pelitin? Gua nggak punya apa-apa. Barang-barang ini semua sulap. Besok kebakar juga nggak jadi duit lagi. Mpret kemudian menepuki komputernya: Mulut gua bisa ngomong, ini sejuta, ini dua juta, tapi dalam hati gua nggak pernah ngelihat itu. Gua cuma ngelihat apa yang bisa bikin gua senang, bisa bikin teman-teman gua hepi, mereka jadi maju, jadi rajin. Cukup.”

“Mpret adalah seorang miliarder andai semua uang kejahatannya dikumpulkan. Namun ia berkeliaran sebebas burung gereja tanpa ada yang mengira bahwa di balik kaos lisut dan tampang belum mandi itu, Mpret adalah penjahat kelas kakap—yang menyenangkan. Aku harus menambahkan itu. Melihat bagaimana ia menikmati dan mengapresiasi hidup, membuatku merasa Mpret layak diampuni” Etra

“Kenapa nggak punya pacar, ya?

Mana sempetlah. Profesi utama Mpret sebenarnya kan bukan berbisnis, tapi bergaul. Gua nggak kebayang gimana si Mpret bisa pacaran.Kapan ketemunya, coba? Harus bikin appointment dari seminggu sebelum,kali.” Etra dan Miun.

“Karena apa? Ia berhenti sejenak, namun mata itu tidak belok ke mana pun juga. Karena semua warnet rancangan gua akan menghasilkan keuntungan paling besar, dengan biaya yang paling rendah. Biaya konsultan cuma tai kucing dibanding apa yang bakallu dapat…” Mpret.