Saya adalah Peniup Balon

Salah satu judul novel yang ditulis oleh John Green berjudul Paper Town, atau Kota Kertas. Dikisahkan dalam novel in tentang seorang anak remaja bernama Quentin yang sepanjang novel berusaha untuk mencari Margo yang hilang setelah kali pertama dan terakhir mereka menghabiskan waktu bersama sejak sebeumnya tidak pernah berbicara selama sekian tahun.

Ide utama dalam novel ini adalah sesuatu yang sangat saya amini. Tentang jatuh cinta bukan pada orang yang sebenarnya, melainkan pada khayalan kita tentang sosoknya. Saya mengamininya dalam beberapa artian. Pertama, saya tahu benar bahwa saya adalah sosok Quentin: seseorang yang selalu mengagumi dari kejauhan, tanpa pernah benar-benar berinteraksi dengan orang yang saya kagumi. Menganggap semua informasi yang saya dapatkan melalui interaksi terbatas yang cukup singkat sudah cukup sebagai sumber informasi untuk menggambarkkan orang tersebut.

Dan yang kedua, saya tahu benar bahwa yang saya lakukan kesalahan lain yang saya lakukan berulang-ulang dalam hidup saya. Bahwa John Green benar. Di akhir novelnya (spoiler), Margo menjelaskan dirinya dan membuat Quentin/Q sadar, Q selama ini mengagumi sosok Margo yang ia ciptakan, tapi ia tidak mengenal Margo yang sebenarnya.

Cukup banyak saya bertemu dengan orang-orang yang memukau, yang bersinar, yang membuat saya silau dan dibutakan oleh ide-ide yang saya bangun atas kekaguman saya. Cukup banyak juga puisi dan prosa yang saya buat, berisi deskripsi orang-orang ini, diiringi harapaan untuk mengenal mereka lebih jauh lagi.

Tapi pada akhirnya, saya selalu menemukan bahwa saya berusaha mencengkram memori yang semakin lama semakin memudar. Karena pertemuan singkat, kesempatan yang terbatas, dan ketidakberanian untuk menginvasi personal space orang lain. Saya menemukan diri saya berusaha mempertahankan kenangan-kenangan yang semakin lama semakin membesar namun memudar, seperti balon yang berekspansi tapi sebenarnya bendanya ya itu-itu saja. Kenangan berbahan dasar interpretasi, bukan interaksi. Kenangan-kenangan saya memfiksi.

Tak heran jika saya pada akhirnya selalu mudah merelakan.

Advertisements

Untuk Seseorang yang Mirip Aan Mansyur

Arti namanya mungkin berarti anugerah,

Tapi bagiku namanya berarti secangkir kopi di pagi hari

Bunyi letupan kecil saat telapak tangan kami beradu

Dan beberapa sapaan ramah pengganti salam

 

Wajahnya tirus, siluetnya kurus

Suaranya ringan dan santai,

Mengingatkanku pada awan pukul 8 pagi,

yang sedikit kalah kusam dari kaos putih lusuhnya,

 

Akankah aku akan cukup dekat

untuk melihatnya kelabu,

seperti kemeja abu

yang ia pakai keesokan harinya?

 

 

Banjarbaru, 30 Mei 2017

‘Gravitational wave’, So what?

Seminggu terakhir di timeline berseliweran banyak postingan tentang gravitaional wave yang akhirnya ‘membuktikan’ perkiraan Einstein. I cannot explain it in here in a sense that I most possibly won’t get it right.

But why does it matter? Apakah setelah dibuktikannya teori ini, upah minimum buruh akan meningkat? Atau masalah wabah malaria di afrika akirnya selesai? Apakah internet akhirnya akan murah?

Oke tunggu, jangan langsung naik pitam karena statement tersebut. Itu bukan pertanyaan retoris, tapi pertanyaan yang sebenarnya masih berhubungan dengan euforia gelombang gravitasi ini, in a good way.

Mungkin hal pertama yang harus kita tanyakan adalah, kita ngerti nggak sih ini sebenarnya kenapa? Masih ingat Newton? Ia adalah orang pertama yang mengajukan model gravitasi. Konsep gravitasinya sederhana, tapi akurat. Lebih dari seabad teori-teori Newton dijadikan seperti agama dalam sains di masa itu. Hingga akhirnya muncullah Einstein. Ia mengajukan model lain yang lebih akurat setalah dia mempelajari anomali-anomali yang terjadi ketika teori Newton digunakan. Ia mengajukan model baru yang jauh berbeda dari yang telah digunakan oleh ilmuan pada zaman itu. Terlepas dari fakta bahwa model ini mampu menjelaskan lebih akurat tentang alam semesta, teori ini rumit. Jika urusan pemakai model tidak jauh-jauh dari urusan yang masih di bumi (misalnya bangunan, pesawat, dkk) memakai teorinya Einstein bisa dikatakan ‘berlebihan’. Sebab, walaupun akurasinya tinggi, selisih hasil perhitungannya sangat kecil dibandingkan jika menggunakan teori Newton.

Baik teori Newton maupun Einstein, dua-danya adalah model semesta dengan logika matematis dan disusul oleh pembuktian empiris. Keduanya terbukti benar. Tapi yang menarik, ketika ada prediksi yang salah, terkadang ilmuan ngeyel. Mereka akan terus melanjutkanpenelitian dengan model yang ada sampai akhirnya ada model pengganti yang bisa lebih menjelaskan anomali-anomali yang selama ini terjadi.

Apakah teori gravitasi yang kita pelajari di SMA selama ini salah? Mungkin jawabannya adalah pertanyaan lain: memangnya pernah benar?

Penemuan gelombang gravitasi menunjukkan bahwa teori Einstein semakin ‘dikuatkan’ karena prediksinya tepat, dan menjanjikan terbuktinya prediksi-prediksi lain. Ia penting bagi para ilmuan di tapal batas, sebab membuka banyak hal yang mungkin dicapai oleh manusia. Bagaimana dengan kita? Perlukah kita mengerti tentang hal ini?

I think we should. Karena penelitian ini adalah akumulasi dari rasa ingin tahu manusia terhadap alam semesta yang secara sengaja maupun tidak sengaja telah memajukan teknologi yang digunakan untuk melakukaan sejumlah penelitian. Coba bayangkan jika manusia tidak memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi setinggi ini, maka teknologi yang kita miliki saat ini pun tidak akan semaju ini. Sangat banyak teknologi yang awalnya hanya dimiliki oleh ‘laboratorium’ ilmuan yang akhirnya diadaptasi dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saja tekologi NASA yang fokusnya sering diasosiasikan dengan space exploration, dalam upaya ternyata menghasilkan hal-hal yang selama ini kita anggap biasa dan sederhana seperti kacamata antigores plastik, sol sepatu dan smoke detector http://list25.com/25-coolest-nasa-discoveries-that-changed-your-life/. Contoh simpelnya adalah bahan bakar mobil. Umumnya listrik di rumah masih menggunakan bahan bakar fosil. Tapi sekarang, terimakasih kepada NASA yang ingin keluar angkasa dengan efisien, akhirnya kita memiliki alternatif energi lain yakni solar panel. Contoh lain adalah peralata pemadam kebakaran.

Kira-kira apa yang terjad jika rakyat Amerika Serikat menolak upaya pemerintahnya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan? (Gelombang gravitasi ditemukan oleh ilmuan di LIGO yang dibiayai oleh NFS, yakni peerintah amerika). Misalnya dengan menyatakan bahwa dana anggaran terlalu besar unutuk membuktikan hal yang ‘sepele’ seperti terbang ke bulan, dan hal-hal lain yang lebih perlu untuk diperhatikan, seperti pemerataan kualitas sekolah atau subsidi petani.

Well, untungnya, (sebagian) masyarakat di sana peduli terhadap penelitian dan ilmu pengetahuan sehingga bahkan rakyat yang meminta agar dana yang dialokasikan di bidang itu ditambah. Ini adalah perbedaan yang penting. Jika kita tidak mengerti signifikansi majunya ilmu pengetahuan, maka kecil kemungkinan kita akan peduli, lebih lebih ikut berpartispasi. Ilmu pengetahuan bisa jadi variabel yang kita abaikan saat membuat skala prioritas karena terlihat kecil, padahal masalahnya adalah ketidak-tahuan kita.

Masih banyak teknologi yang ‘mungkin’ lahir dari laboratorium para ilmuan dan bepartisipasi dalam menghasilkan kehidupan umat manusia yang lebih baik. Itu semua tidak akan terwujud jika kita tidak terus mendorong ujung batas pengetahuan kita, bersama-sama, baik sebagai ilmuan yang bergelut langsung di bidangnya maupun rakyat biasa yang ikut menentukan terlaksananya pertaruhan tersebut.

Fiction Writers and what Makes them Amazing

I am a grad students with many assignments — not that many but I like to see it from the bright side — that force me to read articles and books before write anything. I have to put citations an referring to certain writing to strengthen my idea, to prove my view on the worlds. But for fiction writer, this cycle is different.

They write about the(ir) world and everything inside. It would be filled with a lot of phenomenons. Some of them come from observation to the world, some of them from self research (without the need to make citation), or even tacitly gained knowledge. They tailored them to suit their imaginations.

Some good writer capture those phenomenon strikingly similar to our perception of the world in front of us or in our head. From romantic, politic to science fiction. The more relate-able story to us, the more chance that we like those stories. Writers able to capture their realities and projecting it to a writing piece. Basically, that’s what interpreter in social research do, but less literary and more strict with methods. And maybe, that’s also, how we see how ‘good’ a fiction writer is.

To be frank, we’re still trying to figure out our reality even until now. We rarely read journals of all the stuffs happening in the world to make sure our realities is the same with others. But to have it composed in a single book (or many volumes that we cannot stop reading), is like being assured that someone else is seeing the same world. That we are not alone. Though we rarely realize that.

And when things is not going right in a fiction, two things:everyone have their own realities to see what is ‘going right or not’, and, it’s a fiction.

And in that way, fiction writer are just amazing.

Twentysomething’s Anxiety

It was Jamie Cullum’s song, Twentysomething, that I used to hum often, but only recently understand by heart. The lyric is something like this: The world turned out to be a place that doesn’t really need scholars, so I’ll just go with the flow of life while doing things that might be useful like, working, going to gym, fall in love and hang out at night. I feel it happening so much to us, the twentysomething, right now .

Some of my friends drown them self in work 7 to 3, or 9 to 5, 6 day a week. Barely there to engage in meetups with friends. Worrying about marriage deadline (Maybe I’ll just fall in love , that could solve all— Jamie Cullum). Some other keep busy posting selfies of their adventure in some mount in the middle of of the wilderness. Living their life, as they call it (maybe I’ll go travelling… finding myself, or, start a career — Jamie Cullum). There are also those friends who often hang out in fancy coffee shop until late night, discussing about life and career goals that they have not started yet.

Being twentysomething is tough. It is the phase of the life when we actually get inside to the society and surprised of what’s actually waiting in the real world. Start to live independently, making our own choices. Some of us might take haste decision in the process, while the others have not pick anything because of bewildered by choices they thought the have (because, I found that success is a a mutual thing, you choose the opportunity, the opportunity also must choose you).

As for me, I’m not yet actually living independently. I still live with my parents, currently preparing for my master degree almost right after I graduated from my undergraduate study. Wishing that maybe after another year of study I’ll get a bigger and better opportunity in work. Planning on saving some scholarship money for future entrepreneurship and social project. Hoping to meet a soulmate in the process. Make a good living, not a dull living. Still going out, taking care things, creating things, hopefully making a world a better place (I’m a teacher, that spot’s primary obligation).

You see, I’m a twentysomething! Plans and dreams!

Aku, Kau dan KUA: Anomali dalam List Nonton

It is noteworthy to mention that I rarely watch Indonesia’s Movie, especially drama genre, especially when it seem to be shallow (ini nggak tau dari mana nilainya, tapi kayaknya cuma dari prasangka lihat gambar dan judul). Tapi kali ini, ada satu pengecualian.

Aku, Kau dan KUA tiba-tiba muncul menyeruak diantara list fim yang udah antri minta tonton karena sekilas liat adegan yang menurutku cukup menarik. Salah seorang tokohnya sedang pakai Tuxedo dan sedang presentasi konyol tentang kehidupannya dihadapan cewek yang sudah lama dia taksir, dalam rangka Taaruf. Kesan pertama: okeh, ini film kok lucu tapi bener ya?

Akhirnya tergodalah untuk nonton. Castnya yang jarang ditemuin di film-film yang biasanya aku tonton bikin film ini terkesan segar (karena keseringan liat tampangnya bang zafran, remy dkk). Tokoh (yang tadinya dikira) utamanya juga nggak ganteng-ganteng amat, terkesan manusiawi gitu.

Aanyway, post ini nggak sepenuhnya untuk mereview, dan males nulis sinopsis. Cuma saran aja sebelumnya: YOU SHOULD WATCH THIS MOVIE GURLS!! More than Cinderella, I think this is what you call a fairy tale.

Tulisan selanjutnya adalah pemikiranku tentang film ini, so this is VERY SPOILY. If you haven’t watch it, please stop!

SPOIIIIILEEEEEERRRRRR!!!!

There, now I’m free to talk all about the movie.

Film ini menyandang tema yang bagus banget, karena aku ngerasa sebagian besar dari kita bisa relate dengan ceritanya. Banyak aspek kehidupan mid twenties yang film ini coba bawakan dan di ‘tanggulangi’. Kenapa ditanggulangi? Karena mostly aspek-aspek itu adalah masalah-masalah yang disadari maupun tidak disadari.

Contohnya: urusan nikah dan pasangan, yang sering didiskusikan dan membuat galau para singlewan singlewati. A problem which for some people as clear as daylight. Selain itu yang kita nggak sadar: tuntutan sosial untuk hidup dalam glamorous life (now with so many social media to upload our ‘happy life’).

Di film ini, tema utamanya yang worth writing adalah tentang taaruf yang diceritakan dengan casual dan lucu, tapi bener. Taaruf ternyata bisa nggak kaku dan kekinian, disampaikan melalui hubungan tokoh Deon dan Fira. Di film ini mereka cerita bikin video tentang hidup mereka with #nofilter.

Ada lagi tentang ‘kalau mau jadi dapet jodoh orang baik, jadi orang baik’. Di film ini, melalui tokoh Mona yang berhijab cuma karena mau cari jodoh, pernyataan itu dipotong melalui cerita yang konyol tapi, sekali lagi, bener. Jangan mikir nyari jodoh orang baik, tapi ikir jadi orang baik nya, tanpa embel-embel jodoh itu. Okay. Noted!

Cerita tentang Rico dan Aida juga menunjukkan bahwa lifestyle dan ekonomi bisa jadi penghalang dalam suatu hubungan. Si Rico yang penghasilannya pas pas an terpaksa harus mengimbangi gaya hidup yang high class, dengan minjam duit sana sini, dan ujung-ujungnya  nggak mau diajak nikah karena, Rico dianggap nggak punya apa-apa untuk ditawarkan dalam pernikahannya. padahal udah berani ngelamar.

Banyak anak muda yang masih merasa tertekan dengan tekanan sosial sok sokan punya jetset life, tapi pada kenyataannya ‘menjadi miskin dalam usaha berpura-pura menjadi kaya’. Selain itu juga ngajarin bahwa nikah itu nggak bisa cuma modal cinta, harus punya modal materi juga. Entar keluarga mau dikasih makan apa?

Terakhir, dua tokoh yang nggak disangka ternyata bakal jadi tokoh utama dalam cerita ini, Uci dan Rico, membawa pesan yang menurut aku harus disampaikan pada generasi muda saat ini. Yang sejauh pengamatanku sudah, ehmmm… parah (I used Secret app, and have read many stories and confessions). Pesan moral pasangan ini : Apapun yang terjadi, fairy tale apapun yang ada di hadapan kamu, jangan jualan kucing dalam karung. Keberanian Uci untuk jujur tentang keperawanannya menurut aku keren banget. Mungkin karena dia menghargai lamaran Rico yang impulsif, dia berani juga menjelaskan siapa dia yang sebenarnya, dan bukannya menutupi hal itu.

Film ini ditutup dengan ayat Al Quran: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Az Zumar:53]. Mungkin tepat banget buat mereka yang mau insyaf tapi merasa masih setengah-setengah.

 

All of the moral values above, and happy endings it comes with, I think it is fair to call it a fairy tale. If I have to be cheesy to pick a fairy tale, then I am certain that I won’t choose any of those Disney stories. I have been cynical to all happy endings, but somehow I tolerate this one.

As a movie, I think that there are many plot holes, illogical scene etc etc (I watched Sherlock BBC under Stephen Moffat hell of logic). But if we count it as a way to deliver guidance, moral and Islamic values in mid twenties relationship, i think it succeeded.

Books and How Should I Face this Vast World

I always regret times that I couldn’t spend to read a book. It’s as if I lost something so important that should be mine. I always try to comfort myself by telling myself that lately I’ve been too busy.

But it should never gone like that. I should read every time I could. I really love Neil Gaiman who always have time to remind us all that it is important to read your book. Books. It’s piled up in my room now, untouched, because of unreasonable reason (what? busy is the worst excuse ever!).

That’s why now, I think I should take a bath and read Michio Kaku’s book and considering reading Discworld series that I failed to read months ago.