In Short, Mendaftar Kuliah di Luar Negeri

So, I’ve been writing about how I got the scholarship in here, now, it’s the second big part of studying abroad: getting accepted in the desired university. Basically, this is my suggestion on getting your Letter of Accepance from university  based/not based on my experience:

1. Browse for your desired university, faculty and master program.
Thanks to the internet, bisa dilakukan online melalui website mereka. Ini bisa jadi bagian yang memakan banyak waktu jika masih belum menemukan program yang diinginkan (like me). Most people know what they want to study because mostly master degree outside Indonesia focuses on the research that the students will be doing, not the classroom teaching/learning process.
Selain itu, berbeda dengan di indonesia, master diluar negeri sangat beragam dan programnya terkadang unik dan tidak biasa. Bagi universitas yang menawarkan program-program tersebut, hal ini dianggap sebagai kekhasan mereka. Selain itu, proram yang kita inginkan bisa jadi memiliki nama yang berbeda di setiap universitas walaupun kurikulumnya mirip-mirip.
Salah satu cara yang termudah bagi mereka yang lost sama sekali adalah dengan¬†bertanya dengan yag sudah pengalaman atau¬†meminta bantuan dari agen pendidikan. I’ll take about this in another post.¬†Kesimpulan: sediakan banyak waktu untuk melakukan hal ini.

2. Find your program’s requirements and mechanism for application.
Pasti ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk perkuliahan, ini biasanya bisa ditemukan di website program dengan berbagai istilah : entry requirements, how to apply. Don’t forget to look for international students page, karena disitu biasanya ada penjelasana apakah uni meminta kita mensubmit¬†english proficiency test such as TOEFL or IELTS. Most uni in US¬†favor TOEFL and¬†UK favor IELTS. Dan sayangnya akhir-akhir ini masing-masing di uni di dua negara tersebut mulai mengeksklusifkan pilihannya untuk english proficiency test, misalnya University of Washington yang cuma nerima TOEFL atau Kings’College¬†yang cuma nerima IELTS.¬†However,¬†other countries’ policy about this is vary. Apalagi negara yang tidak berbicara dengan bahasa inggris seperti jepang dan¬†korea, mereka punya test tersendiri¬†untuk bahasa mereka.

3. Prepare for your documents.
Biasanya yang paling standar adalah transkrip nilai, ijazah, english proficiency test report, surat rekomendasi (2), personal statement (beberapa nggak minta, seperti University of Melbourne jurusan pendidikan). It takes a lot of time to prepare for this. jadi mendaftar jangan mepet-mepet sama deadline pendaftaran ya. Daftar as soon as possible.
Untuk surat rekomendasi dan personal statement, terkadang univeristas punya struktur entang apa saja hal-hal yang harus dimasukkan dalam dokumen tersebut, seperti University of Edinburgh atau Institute of Education, make sure to check about it.
Universitas di US sebagian besar meminta pendaftar menyerahkan hasil tes GRE atau GMAT, yang merupakan standardized test untuk mereka yang mau mendaftar post-graduate. Kalau menurut aku sih testnya susah, kayak belajar buat UN lagi. Bagi yang mau kuliah di US, coba cari tahu tentang GRE dan GMAT dulu ya. sebab perlu belajar giat untuk bisa lulus dengan skor yang bagus.
3a. About personal statement.
Jadi gini, untuk bikin personal statement, ada dua macam pendekatan yang bisa kita lakukan:
Pertama, kita sudah tau mau meneliti tentang apa, baru kemudian cari dosen yang penelitiannya dibidang tersebut atau yang masih nyerempet-nyerempet aja.
Kedua, kita belum tau mau penelitian apa, jadi coba browsing research dosen-dosen di uni yang kita inginkan. Ini bisa kita liat di website uni, di bagian staf dan pengajar, atau coba search cv mereka di google. Beberapa dosen bahkan menyertakan dokumen research/jurnal mereka di CV mereka. Jadi bisa baca-baca dulu.
Penting untuk menemukan dosen yang memiliki interest ke hal yang sama dengan kita, karena¬†untuk melakukan research kita akan memerlukan dosen pembimbing. Ini bahkan bisa mempermudah jalan kita untuk lulus/diterima di uni yang kita inginkan karena mereka¬†akan merekomendasikan kita supaya diterima. I’ll tell you what bizzare experience I have with this one.

4. Daftar! Bero, Sist! Daftaar!
Segeralah daftar ke uni yang diinginkan kalau semuanya sudah siap. Hati-hati ngisi formulir, try not to make any mistake.

5. Tunggu kabar dari universitas.
Ini mungkin fase yang paling menyebalkan karena kita udah nggak bisa apa-apa lagi dan cuma nunggu. memrlukan sekitar 3-6 minggu untuk mendapatkan keterangan apakah kita diterima atau tidak. In my case, I kinda have different experience in Institute of Education, University College London. You may get interview session in between those frustating week.

6. Make another application.
Bukannya berburuk sangka, tapi kita harus menyiapkan untuk semua kemungkinan, karena masih ada kemungkinan kita ditolak di uni yang kita inginkan. Find alternative prorgram for your study.

Singkatnya mungkin seperti ini. Di postingan yang lain, aku bakal nulis tentang my own long personal experience on applying to¬†University of Melbourne and Institute of Education, Univeristy College London. Semoga bisa bermanfaat. If you have question, feel free to ask me. ūüėÄ

Berjibaku dengan Proses Pendaftaran Beasiswa Presiden Republik Indonesia nya LPDP (Part 1 of maybe 2)

BPRI HEADER

Akhirnya, setelah satu bulan sejak Pelatihan Kepemimpinan selesai, aku bisa bikin tulisan tentang BPRI nya LPDP. Sudah lama banget pengen nulis ini, tapi tertunda terus, mulai dari yang wajib nya (kerjaan, persiapan tes) sampai yang makruhnya (nonton film, baca buku de el el). But here we are now.

Beberapa teman banyak yang nanya tentang ‘gimana sih caranya¬†biar bisa lulus?’ Honestly guys, I don’t know . It’s all His works, I’m only doing my part and the rest is His decision. Yang bisa aku bagi cuma¬†pengalamanku ketika melalui setiap tahapan seleksi, but just so anyone who read¬†remember: I don’t think I know the ultimate answer for the question.

Now, let’s begin. Semuanya di mulai di bulan Agustus, tanggal 17 Agustus, ketika aku mengirimkan berkas aplikasi ke website LPDP.¬†Saat itu sebagai pendaftaran aku memiliki 2 opsi, mendaftar sebagai peserta BPI atau mengikutkan diri dalam seleksi BPRI. Karena dorongan dari Abah, akhirnya aku memilih untuk mengikutkan diri dalam seleksi BPRI.

Berbeda dengan seleksi BPI yang terdiri atas 2 tahapan, seleksi BPRI terdiri atas 3 tahap: Seleksi Administrasi, Seleksi Wawancara dan menulis esai, dan Seleksi Tahap Akhir (Medical Check Up, Profiling Assessment Test dan Leadership Project).

1. Seleksi Administrasi
Seleksi administrasi merupakan seleksi pertama yang harus dilalui. Pertama, register dulu di website LPDP. Setelah terdaftar di situs, baru isi formulir online. selain itu juga ada sejumlah berkas yang harus disediakan untuk mendaftar.

  1. Ijazah;
  2. Sertifikat;
  3. Rencana Studi;
  4. Sertifikat bahasa (mis. TOEFL, IELTS);
  5. Surat Pernyataan
  6. Surat Izin Belajar
    Aku nggak upload ini karena sekarang masih freelancer.
  7. Surat Rekomendasi
    Paling mudah dari dosen. Kalau mau dari Walikota/Gubernur, kayaknya juga boleh. Atau tokoh lain yang ahli di bidangnya.
  8. LoA (Letter of Acceptance) dari Universitas
    Aku juga nggak upload ini karena kemaren belum ada. Berdasarkan pengalaman awardee yang lain, lebih baik mendaftar di universitasnya jangan yang cepet berangkat, takutnya proses seleksi belum selesai tapi perkuliahan sudah dimulai. Dalam kasus seperti itu, biasanya mereka gugur karena udah nggak keburu.
  9. KTP
  10. 4 Judul Esai.

Dari semua berkas persyaratan ini, teman2 aku banyak yang ngerasa bagian yang susah tuh di esai. Esai yang diminta untuk BPI hanya 2: Peranku untuk Indonesia dan Sukses Terbesar dalam Hidupku. Tapi kalo mau diikutkan ke BPRI, maka esai nya nambah dua (alamak!) Rencana Karir dan Pengabdian Setelah Studi.

Esaiku tentang ‘Peranku untuk Indonesia’ isinya adalah cerita pas masihh PPL (praktek lapangannya calon guru). Sukses Terbesar dalam Hidupku isinya adalah tentang masa depan (karena aku menganggap sampai sekarang masih belum sukses, jadi saat ini sedang berupaya untuk mendaki tangga kesuksesan itu).

Setelah semua berkas komplit, baru deh di submit. Tinggal tunggu pengumuman hasil seleksi.

2. Seleksi Wawancara (dan menulis esai super kilat)
Seleksi wawancara adalah seleksi selanjutnya setelah calon dinyatakan lolos seleksi administrasi. Kalau nggak salah, pengumuman kelulusan tanggal 21, tanggal 28 September tes wawancara. Pas tes harus bawa berkas-berkas (di jelasin dalam email dari LPDP).

Sebelum wawancara, kami disuruh untuk nulis esai super kilat. Se kilat apa? Jadi kami cuma punya waktu kurang lebih 15 menit buat baca suatu wacana di satu lembar HVS, dan mengomentarinya. Dilakukan 2 kali berturut-turut. Wacana pertama adalah tentang Sistem Pendidikan di Indonesia, sedangkan wacana kedua tentang Sistem Pemilihan Umum. Peserta diminta berandai-andai menjabat sebagai menteri dan memberikan solusi yang dapat diimplementasikan untuk memperbaiki kondisi yang ada. Asik banget sih, tapi diburu waktu juga. Pertanyaannya asik dan nantangin, salah satunya bunyinya kira-kira kayak gini: Jika anda menjadi menteri pendidikan, apa langkah pertama anda  (amiiiin!!). 5 menit untuk baca wacana, dan 5 menit untuk nulis esai.

Seleksi wawancara dilakukan dalam waktu kurang lebih 45 menit per orang. Peserta seleksi wawancara akan berhadapan dengan 3 orang reviewer yang terdiri atas 2 orang akademisi dan sat orang psikolog (akademisi juga sih sebenernya). Saat seleksi wawancara peserta akan ditanyai tentang hal-hal yang berhubungan dengan studi dan beberapa hal yang sifatnya personal.

Seleksi wawancara itu kayak untung-untungan. Kalo lagi beruntung dapat reviewer yang baik, senyum, dan nggak intimidatif (ada juga yang suka nebak-nebak tentang fun fact nya kita), tapi ada juga yang bisa ketemu dengan yang nyeremin, intimidatif, dan mungkin udah capek/bosan nge review.

Kemarin alhamdulillah dapat yang sedang sedang saja :D. Dua ibu-ibu, dan 1 bapak. Setelah mereka nanya tentang nama dan asal mana/domisili, mereka langsung to the point aja tuh nanyain tentang studi. Kenapa mau sekolah di sana? Kelebihan univ nya apa? Gimana studi itu bakal bantu karir? Penelitiannya mau apa? Itu semua sudah ada dalam Rencana Studi (mereka jadikan itu sebagai acuan).

Esainya juga ditanyain, kemarin yang banyak mereka eksplor di bagian rencana karir dan pengabdian setelah lulus.¬†Gimana cara meraih hal-hal tersebut. Satu hal yang saya ingat,kata-kata Bu¬†Ratna pas PK yang mungkin bisa menjelaskan gimana cara melalui part ini adalah: “Kami (LPDP) ingin membedakan antara pemimpi dan pemimpin.”.

Mereka juga nanya tentang sikap kalo ditawarin kerja di luar negeri (Aku apply Master of Teaching di University of Melbourne). Ya aku jawab aja nggak mau, soalnya mau balik ke sini, punya janji sama senior (kak Noviar) dan dosen. Terus tambah nanya/ngorek, misalnya, gimana kalo gaji nya tinggi, atau kan masih bisa berkontribusi ke negara juga walaupun di luar negeri, atau gimana kalau ternyata malah betah tinggal di sana. Yah, to be honest, aku ngga tertarik tinggal lama-lama di negeri orang sih (walaupun suka jalan-jalan ke sana), jadi aku bilang aja nggak, soalnya enakan di sini (I mean, how can I leave nasi kuning, lontong segitiga, lupis dkk).

Habis itu, esai kilat yang dibikin sebelumnya juga jadi bahan pertanyaan mereka, misalnya mereka nggak ngerti dengan beberapa poin, mereka langsung nanyain “untuk bidang pilkada ini kami¬†masih belum bisa menangkap apa maksud/inti kamu,¬†bisa dijelaskan?”

Mereka juga nanyain gimana kalau ntar homesick, atau nggak bisa adaptasi di sana. Tapi menurut aku pertanyaan paling ‘wah’ di hal personal itu,¬†ini: ‘kelemahan kamu apa?’. Mereka nanyanya casual aja, tapi itu penting (kayaknya). Aku jawab aja sejujur-jujurnya: Saya susah dekat sama orang baru.

Wawancara nya¬†sersan (serius tapi santai), entah karena reviewernya atau karena jawabanku yang makin ke sini makin nggak formal. Ketika pertanyaan yang berhubungan dengan esai habis, diganti dengan pertanyaan yang agak personal, entah kenapa aku jadi kayak anak¬†SMA¬†yang lagi curhat sama guru BK nya (aku bahkan main-mainin jari di meja antara aku dan reviewer). Let’s say, I unconsciously¬†¬†became childish when interviewed by them.

I wasn’t really confident, though. Aku ngerasa banyak lubang-lubang kegagalan¬†dalam wawancara, but that’s the best I could¬†do. ¬†Aku kira aku bakal gagal. Sama sekali nggak nyangka¬†bahwa¬†beberapa waktu¬†kemudian, pemberitahuan kelulusan bakal masuk ke email. Tepatnya 26 September 2014.

Eits, bukan lulus¬†dan udah dapet beasiswa, tapi masih harus melanjutkan ke Seleksi Tahap Akhir yang dilaksanakan tanggal 30 September 2014. Kaget banget, di hati dan di dompet :’). Soalnya seleski ini berlokasi di IPSC Bogor, sedangkan aku berdomisili di Kalimantan Selatan. STA dilaksanakan selama 4 hari, dan pengumuman kelulusan dilakukan 3 hari kemudian.

So, I¬†prepared myself for next thing that I were going to face, with faith and du’a from¬†families. Bismillah.

STA, PK BPRI, IELTS, GRE and How My Life Drastically Back to Long-Life Learning Process

In my latest post, I wrote about me¬†passed interview test for a scholarship, named BPRI, abbreviation for Beasiswa Presiden Republik Indonesia or in english:¬†IPS, Indonesia Presidential Scholarship¬†. Now I’m gladly telling the world that I already passed the final stage of the¬†selection/Seleksi Tahap Akhir/STA!! Iyeeey!!!

The the final selection consist of the following test : medical check up, the too-many-unimportant-and-difficult-questions test, and Leadership Project (I was teamed up with 3 friends to create social project in underdeveloped village). The STA was held from 30 September to 3 October, while the announcement for the result is 6 October, all in IPSC (Indonesia Peace and Security Center) Sentul. The awardees shrunk from 134 candidates into 109 awardees.

After the announcement, all awardees have to join Leadership Program from LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) from 7 October to 15 October 2014. It was a very fun Program. I get to know with each other awardees more, and we also¬†work on several social project together. Other times, we get lectures from inspirational leaders in Indonesia, and improve our awareness in Indonesia’s potential for the next years to come. At the last day, we finally meet¬†RI 1, President Susilo Bambang Yudhoyono in PERSON!

I guess I better write on this matter in separate post because there are too much to write about STA and PK. I promise that i will write the entire process to apply IPS.

What I want to talk about in this post is actually the later condition in my life. I get the scholarship, yes. But I still need to apply to the univeristy (since I have no LoA). So I still need to take english proficiency test¬†and GRE (if I’m going to US). My last english proficency certificate is TOEFL ITP, which cannot be used to apply for university. There are two option, whether I to take TOEFL IBT or IELTS.¬†In the end I choose IELTS, because it’s widely used (US, UK, Aussie).

I’m trying to get to University of ***, University of ****¬†and *****¬†University.¬†Each univeristy has their own uniqueness from my view:

  • University of ***¬†: Melbourne is located near my motherland #eaaaa¬†.¬†Some people says it’s nice city to live in. Aside from that, Uni*** offers program that I need, Master of Teaching concentrated in Biology and PSYCHOLOGY! So I could learn how to teach Biology and also learn more about how students perceive education settings.
  • University of ****¬†: I don’t really have a dream to live in US, so I’ll review this only by the program. It has program that I want but mainly focus in psychology but¬†I will still get M.Ed for it.
  • ***** University : It’s *****¬†! But more logical than that, the lecturer, they have Mr. X and Mr. Y! I’ve been learning from their books and theories like the whole time I’m doing my undergraduate program and skripshit/undergraduate final paper.

Some part of me realize that I think it’s not good to explain my preference, so I decided to censored them.¬†I never mean to compare them, all of them is ¬†good universities.

So, now I¬†started to change my life’s pace.¬†From layback freelancer whose life full of chasing wild opportunities, to scholarship awardee with deadline. In 1 year, I have to be accepted in university. Time somehow flow so fast that I¬†hardly have time to do anything at all (I think it’s just me panicking, like always, procrastinator standard¬†syndrome). I started to make plans for several days to come. Organized plan. Somehow it scares me how much my time is worth. every single second.

I study everyday now, for many tests to take, for many¬†essays to write, for many journals¬†and books to read (due to the¬†possibility to change university). No more watching¬†movies, Arashi vids, downloading series. Now I’m to read pdfs and books.¬†They all wait for me to study them done.

This is a big leap in my life. I won’t mess with this one now. I will focus on this goal. Too much risk to take if I lose this. God, please give me your guidance.

 

(P.S.: I’m seriously thankfull if anyone to give me corrections and advice about english writing if you see anything bad with this post)