Aku, Kau dan KUA: Anomali dalam List Nonton

It is noteworthy to mention that I rarely watch Indonesia’s Movie, especially drama genre, especially when it seem to be shallow (ini nggak tau dari mana nilainya, tapi kayaknya cuma dari prasangka lihat gambar dan judul). Tapi kali ini, ada satu pengecualian.

Aku, Kau dan KUA tiba-tiba muncul menyeruak diantara list fim yang udah antri minta tonton karena sekilas liat adegan yang menurutku cukup menarik. Salah seorang tokohnya sedang pakai Tuxedo dan sedang presentasi konyol tentang kehidupannya dihadapan cewek yang sudah lama dia taksir, dalam rangka Taaruf. Kesan pertama: okeh, ini film kok lucu tapi bener ya?

Akhirnya tergodalah untuk nonton. Castnya yang jarang ditemuin di film-film yang biasanya aku tonton bikin film ini terkesan segar (karena keseringan liat tampangnya bang zafran, remy dkk). Tokoh (yang tadinya dikira) utamanya juga nggak ganteng-ganteng amat, terkesan manusiawi gitu.

Aanyway, post ini nggak sepenuhnya untuk mereview, dan males nulis sinopsis. Cuma saran aja sebelumnya: YOU SHOULD WATCH THIS MOVIE GURLS!! More than Cinderella, I think this is what you call a fairy tale.

Tulisan selanjutnya adalah pemikiranku tentang film ini, so this is VERY SPOILY. If you haven’t watch it, please stop!

SPOIIIIILEEEEEERRRRRR!!!!

There, now I’m free to talk all about the movie.

Film ini menyandang tema yang bagus banget, karena aku ngerasa sebagian besar dari kita bisa relate dengan ceritanya. Banyak aspek kehidupan mid twenties yang film ini coba bawakan dan di ‘tanggulangi’. Kenapa ditanggulangi? Karena mostly aspek-aspek itu adalah masalah-masalah yang disadari maupun tidak disadari.

Contohnya: urusan nikah dan pasangan, yang sering didiskusikan dan membuat galau para singlewan singlewati. A problem which for some people as clear as daylight. Selain itu yang kita nggak sadar: tuntutan sosial untuk hidup dalam glamorous life (now with so many social media to upload our ‘happy life’).

Di film ini, tema utamanya yang worth writing adalah tentang taaruf yang diceritakan dengan casual dan lucu, tapi bener. Taaruf ternyata bisa nggak kaku dan kekinian, disampaikan melalui hubungan tokoh Deon dan Fira. Di film ini mereka cerita bikin video tentang hidup mereka with #nofilter.

Ada lagi tentang ‘kalau mau jadi dapet jodoh orang baik, jadi orang baik’. Di film ini, melalui tokoh Mona yang berhijab cuma karena mau cari jodoh, pernyataan itu dipotong melalui cerita yang konyol tapi, sekali lagi, bener. Jangan mikir nyari jodoh orang baik, tapi ikir jadi orang baik nya, tanpa embel-embel jodoh itu. Okay. Noted!

Cerita tentang Rico dan Aida juga menunjukkan bahwa lifestyle dan ekonomi bisa jadi penghalang dalam suatu hubungan. Si Rico yang penghasilannya pas pas an terpaksa harus mengimbangi gaya hidup yang high class, dengan minjam duit sana sini, dan ujung-ujungnya  nggak mau diajak nikah karena, Rico dianggap nggak punya apa-apa untuk ditawarkan dalam pernikahannya. padahal udah berani ngelamar.

Banyak anak muda yang masih merasa tertekan dengan tekanan sosial sok sokan punya jetset life, tapi pada kenyataannya ‘menjadi miskin dalam usaha berpura-pura menjadi kaya’. Selain itu juga ngajarin bahwa nikah itu nggak bisa cuma modal cinta, harus punya modal materi juga. Entar keluarga mau dikasih makan apa?

Terakhir, dua tokoh yang nggak disangka ternyata bakal jadi tokoh utama dalam cerita ini, Uci dan Rico, membawa pesan yang menurut aku harus disampaikan pada generasi muda saat ini. Yang sejauh pengamatanku sudah, ehmmm… parah (I used Secret app, and have read many stories and confessions). Pesan moral pasangan ini : Apapun yang terjadi, fairy tale apapun yang ada di hadapan kamu, jangan jualan kucing dalam karung. Keberanian Uci untuk jujur tentang keperawanannya menurut aku keren banget. Mungkin karena dia menghargai lamaran Rico yang impulsif, dia berani juga menjelaskan siapa dia yang sebenarnya, dan bukannya menutupi hal itu.

Film ini ditutup dengan ayat Al Quran: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Az Zumar:53]. Mungkin tepat banget buat mereka yang mau insyaf tapi merasa masih setengah-setengah.

 

All of the moral values above, and happy endings it comes with, I think it is fair to call it a fairy tale. If I have to be cheesy to pick a fairy tale, then I am certain that I won’t choose any of those Disney stories. I have been cynical to all happy endings, but somehow I tolerate this one.

As a movie, I think that there are many plot holes, illogical scene etc etc (I watched Sherlock BBC under Stephen Moffat hell of logic). But if we count it as a way to deliver guidance, moral and Islamic values in mid twenties relationship, i think it succeeded.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s