Guide to This Blog

I know everyone come to this blog with variety of interest. So, I’d really like you to know that you don’t have to read the unimportant posts except you want to. You could find the categories and tags if you click one of the three hexagon button, the brown one.

I hope it saves your time

Advertisements

In Short, Mendaftar Kuliah di Luar Negeri

So, I’ve been writing about how I got the scholarship in here, now, it’s the second big part of studying abroad: getting accepted in the desired university. Basically, this is my suggestion on getting your Letter of Accepance from university  based/not based on my experience:

1. Browse for your desired university, faculty and master program.
Thanks to the internet, bisa dilakukan online melalui website mereka. Ini bisa jadi bagian yang memakan banyak waktu jika masih belum menemukan program yang diinginkan (like me). Most people know what they want to study because mostly master degree outside Indonesia focuses on the research that the students will be doing, not the classroom teaching/learning process.
Selain itu, berbeda dengan di indonesia, master diluar negeri sangat beragam dan programnya terkadang unik dan tidak biasa. Bagi universitas yang menawarkan program-program tersebut, hal ini dianggap sebagai kekhasan mereka. Selain itu, proram yang kita inginkan bisa jadi memiliki nama yang berbeda di setiap universitas walaupun kurikulumnya mirip-mirip.
Salah satu cara yang termudah bagi mereka yang lost sama sekali adalah dengan bertanya dengan yag sudah pengalaman atau meminta bantuan dari agen pendidikan. I’ll take about this in another post. Kesimpulan: sediakan banyak waktu untuk melakukan hal ini.

2. Find your program’s requirements and mechanism for application.
Pasti ada syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk perkuliahan, ini biasanya bisa ditemukan di website program dengan berbagai istilah : entry requirements, how to apply. Don’t forget to look for international students page, karena disitu biasanya ada penjelasana apakah uni meminta kita mensubmit english proficiency test such as TOEFL or IELTS. Most uni in US favor TOEFL and UK favor IELTS. Dan sayangnya akhir-akhir ini masing-masing di uni di dua negara tersebut mulai mengeksklusifkan pilihannya untuk english proficiency test, misalnya University of Washington yang cuma nerima TOEFL atau Kings’College yang cuma nerima IELTS. However, other countries’ policy about this is vary. Apalagi negara yang tidak berbicara dengan bahasa inggris seperti jepang dan korea, mereka punya test tersendiri untuk bahasa mereka.

3. Prepare for your documents.
Biasanya yang paling standar adalah transkrip nilai, ijazah, english proficiency test report, surat rekomendasi (2), personal statement (beberapa nggak minta, seperti University of Melbourne jurusan pendidikan). It takes a lot of time to prepare for this. jadi mendaftar jangan mepet-mepet sama deadline pendaftaran ya. Daftar as soon as possible.
Untuk surat rekomendasi dan personal statement, terkadang univeristas punya struktur entang apa saja hal-hal yang harus dimasukkan dalam dokumen tersebut, seperti University of Edinburgh atau Institute of Education, make sure to check about it.
Universitas di US sebagian besar meminta pendaftar menyerahkan hasil tes GRE atau GMAT, yang merupakan standardized test untuk mereka yang mau mendaftar post-graduate. Kalau menurut aku sih testnya susah, kayak belajar buat UN lagi. Bagi yang mau kuliah di US, coba cari tahu tentang GRE dan GMAT dulu ya. sebab perlu belajar giat untuk bisa lulus dengan skor yang bagus.
3a. About personal statement.
Jadi gini, untuk bikin personal statement, ada dua macam pendekatan yang bisa kita lakukan:
Pertama, kita sudah tau mau meneliti tentang apa, baru kemudian cari dosen yang penelitiannya dibidang tersebut atau yang masih nyerempet-nyerempet aja.
Kedua, kita belum tau mau penelitian apa, jadi coba browsing research dosen-dosen di uni yang kita inginkan. Ini bisa kita liat di website uni, di bagian staf dan pengajar, atau coba search cv mereka di google. Beberapa dosen bahkan menyertakan dokumen research/jurnal mereka di CV mereka. Jadi bisa baca-baca dulu.
Penting untuk menemukan dosen yang memiliki interest ke hal yang sama dengan kita, karena untuk melakukan research kita akan memerlukan dosen pembimbing. Ini bahkan bisa mempermudah jalan kita untuk lulus/diterima di uni yang kita inginkan karena mereka akan merekomendasikan kita supaya diterima. I’ll tell you what bizzare experience I have with this one.

4. Daftar! Bero, Sist! Daftaar!
Segeralah daftar ke uni yang diinginkan kalau semuanya sudah siap. Hati-hati ngisi formulir, try not to make any mistake.

5. Tunggu kabar dari universitas.
Ini mungkin fase yang paling menyebalkan karena kita udah nggak bisa apa-apa lagi dan cuma nunggu. memrlukan sekitar 3-6 minggu untuk mendapatkan keterangan apakah kita diterima atau tidak. In my case, I kinda have different experience in Institute of Education, University College London. You may get interview session in between those frustating week.

6. Make another application.
Bukannya berburuk sangka, tapi kita harus menyiapkan untuk semua kemungkinan, karena masih ada kemungkinan kita ditolak di uni yang kita inginkan. Find alternative prorgram for your study.

Singkatnya mungkin seperti ini. Di postingan yang lain, aku bakal nulis tentang my own long personal experience on applying to University of Melbourne and Institute of Education, Univeristy College London. Semoga bisa bermanfaat. If you have question, feel free to ask me. 😀

Aku, Kau dan KUA: Anomali dalam List Nonton

It is noteworthy to mention that I rarely watch Indonesia’s Movie, especially drama genre, especially when it seem to be shallow (ini nggak tau dari mana nilainya, tapi kayaknya cuma dari prasangka lihat gambar dan judul). Tapi kali ini, ada satu pengecualian.

Aku, Kau dan KUA tiba-tiba muncul menyeruak diantara list fim yang udah antri minta tonton karena sekilas liat adegan yang menurutku cukup menarik. Salah seorang tokohnya sedang pakai Tuxedo dan sedang presentasi konyol tentang kehidupannya dihadapan cewek yang sudah lama dia taksir, dalam rangka Taaruf. Kesan pertama: okeh, ini film kok lucu tapi bener ya?

Akhirnya tergodalah untuk nonton. Castnya yang jarang ditemuin di film-film yang biasanya aku tonton bikin film ini terkesan segar (karena keseringan liat tampangnya bang zafran, remy dkk). Tokoh (yang tadinya dikira) utamanya juga nggak ganteng-ganteng amat, terkesan manusiawi gitu.

Aanyway, post ini nggak sepenuhnya untuk mereview, dan males nulis sinopsis. Cuma saran aja sebelumnya: YOU SHOULD WATCH THIS MOVIE GURLS!! More than Cinderella, I think this is what you call a fairy tale.

Tulisan selanjutnya adalah pemikiranku tentang film ini, so this is VERY SPOILY. If you haven’t watch it, please stop!

SPOIIIIILEEEEEERRRRRR!!!!

There, now I’m free to talk all about the movie.

Film ini menyandang tema yang bagus banget, karena aku ngerasa sebagian besar dari kita bisa relate dengan ceritanya. Banyak aspek kehidupan mid twenties yang film ini coba bawakan dan di ‘tanggulangi’. Kenapa ditanggulangi? Karena mostly aspek-aspek itu adalah masalah-masalah yang disadari maupun tidak disadari.

Contohnya: urusan nikah dan pasangan, yang sering didiskusikan dan membuat galau para singlewan singlewati. A problem which for some people as clear as daylight. Selain itu yang kita nggak sadar: tuntutan sosial untuk hidup dalam glamorous life (now with so many social media to upload our ‘happy life’).

Di film ini, tema utamanya yang worth writing adalah tentang taaruf yang diceritakan dengan casual dan lucu, tapi bener. Taaruf ternyata bisa nggak kaku dan kekinian, disampaikan melalui hubungan tokoh Deon dan Fira. Di film ini mereka cerita bikin video tentang hidup mereka with #nofilter.

Ada lagi tentang ‘kalau mau jadi dapet jodoh orang baik, jadi orang baik’. Di film ini, melalui tokoh Mona yang berhijab cuma karena mau cari jodoh, pernyataan itu dipotong melalui cerita yang konyol tapi, sekali lagi, bener. Jangan mikir nyari jodoh orang baik, tapi ikir jadi orang baik nya, tanpa embel-embel jodoh itu. Okay. Noted!

Cerita tentang Rico dan Aida juga menunjukkan bahwa lifestyle dan ekonomi bisa jadi penghalang dalam suatu hubungan. Si Rico yang penghasilannya pas pas an terpaksa harus mengimbangi gaya hidup yang high class, dengan minjam duit sana sini, dan ujung-ujungnya  nggak mau diajak nikah karena, Rico dianggap nggak punya apa-apa untuk ditawarkan dalam pernikahannya. padahal udah berani ngelamar.

Banyak anak muda yang masih merasa tertekan dengan tekanan sosial sok sokan punya jetset life, tapi pada kenyataannya ‘menjadi miskin dalam usaha berpura-pura menjadi kaya’. Selain itu juga ngajarin bahwa nikah itu nggak bisa cuma modal cinta, harus punya modal materi juga. Entar keluarga mau dikasih makan apa?

Terakhir, dua tokoh yang nggak disangka ternyata bakal jadi tokoh utama dalam cerita ini, Uci dan Rico, membawa pesan yang menurut aku harus disampaikan pada generasi muda saat ini. Yang sejauh pengamatanku sudah, ehmmm… parah (I used Secret app, and have read many stories and confessions). Pesan moral pasangan ini : Apapun yang terjadi, fairy tale apapun yang ada di hadapan kamu, jangan jualan kucing dalam karung. Keberanian Uci untuk jujur tentang keperawanannya menurut aku keren banget. Mungkin karena dia menghargai lamaran Rico yang impulsif, dia berani juga menjelaskan siapa dia yang sebenarnya, dan bukannya menutupi hal itu.

Film ini ditutup dengan ayat Al Quran: “Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [Az Zumar:53]. Mungkin tepat banget buat mereka yang mau insyaf tapi merasa masih setengah-setengah.

 

All of the moral values above, and happy endings it comes with, I think it is fair to call it a fairy tale. If I have to be cheesy to pick a fairy tale, then I am certain that I won’t choose any of those Disney stories. I have been cynical to all happy endings, but somehow I tolerate this one.

As a movie, I think that there are many plot holes, illogical scene etc etc (I watched Sherlock BBC under Stephen Moffat hell of logic). But if we count it as a way to deliver guidance, moral and Islamic values in mid twenties relationship, i think it succeeded.

Kopi Joss Malioboro

Kenangan indah baiknya diingat dalam fragmen
Agar tak cacat ia oleh hilangnya cinta
Seperti malam ini aku teringat
memori berharga, tetapi
hanya ingin mengingatmu sekedarnya
Berpura-pura kembali jatuh hati
Semoga tidak pernah lagi
(Ah, apa kubilang, cacat jadinya)

Malam itu, kita masih tak bertegur sapa
Siapa sangka kau akan marah besar
Karena aku keterlaluan menjahilimu
Tapi toh, mau tidak mau
Malam itu kita duduk lesehan bersama yang lain
Aku memesan kopi joss ku yang pertama
Dan kau memilih memesan sesuatu yang sudah aku lupa

Saat itu kau berkata pada semua orang, kira-kira
“Lebih baik pesan yang sudah pasti tahu rasanya,”
Dalam hati aku mencibir, dasar lelaki penyuka zona aman
Seperti biasa, aku bertingkah seakan menyukai tantangan
Kita mulai kembali bertukar 2-3 kata

Malam begitu riuh rendah, tapi kau tak mengerti
(aku menyesalkan kau yang begitu sederhana)
Seniman jalanan datang silih berganti
Agaknya mereka melihat kita sebagai pundi-pundi uang
Pelukis siluet, pengamen jalanan
Derap musik etnis mengetuk dinamis gendang telingaku

Momen itu begitu menggairahkan:
Kita yang tak benar-benar bertegur sapa
dosen-dosen yang sudah tidak mengantuk
semua duduk di trotoar,
menyeduh kopi joss
dipinggiran malioboro yang berpendar
diiringi musik ritmis khas Jogja

Aku memberanikan diri meminjam ponselmu,
“Bateraiku sudah habis,” kataku tak tahu malu
Kau yang keheranan mengira aku merekam dinamika malam
Padahal yang kurekam adalah dinamika kita
Aku berharap bisa memainkan kembali rekaman itu
Bersama-sama disuatu masa
Ketika memaknai puisi bukanlah hal yang
membosankan
bagimu

Sampai kapanpun,
setiap jengkal Malioboro
Hanya akan mengingatkanku pada kita

Cukuplah fragmen ini, kita sudahi di sini saja