Berjibaku dengan Proses Pendaftaran Beasiswa Presiden Republik Indonesia nya LPDP (Part 1 of maybe 2)

BPRI HEADER

Akhirnya, setelah satu bulan sejak Pelatihan Kepemimpinan selesai, aku bisa bikin tulisan tentang BPRI nya LPDP. Sudah lama banget pengen nulis ini, tapi tertunda terus, mulai dari yang wajib nya (kerjaan, persiapan tes) sampai yang makruhnya (nonton film, baca buku de el el). But here we are now.

Beberapa teman banyak yang nanya tentang ‘gimana sih caranya biar bisa lulus?’ Honestly guys, I don’t know . It’s all His works, I’m only doing my part and the rest is His decision. Yang bisa aku bagi cuma pengalamanku ketika melalui setiap tahapan seleksi, but just so anyone who read remember: I don’t think I know the ultimate answer for the question.

Now, let’s begin. Semuanya di mulai di bulan Agustus, tanggal 17 Agustus, ketika aku mengirimkan berkas aplikasi ke website LPDP. Saat itu sebagai pendaftaran aku memiliki 2 opsi, mendaftar sebagai peserta BPI atau mengikutkan diri dalam seleksi BPRI. Karena dorongan dari Abah, akhirnya aku memilih untuk mengikutkan diri dalam seleksi BPRI.

Berbeda dengan seleksi BPI yang terdiri atas 2 tahapan, seleksi BPRI terdiri atas 3 tahap: Seleksi Administrasi, Seleksi Wawancara dan menulis esai, dan Seleksi Tahap Akhir (Medical Check Up, Profiling Assessment Test dan Leadership Project).

1. Seleksi Administrasi
Seleksi administrasi merupakan seleksi pertama yang harus dilalui. Pertama, register dulu di website LPDP. Setelah terdaftar di situs, baru isi formulir online. selain itu juga ada sejumlah berkas yang harus disediakan untuk mendaftar.

  1. Ijazah;
  2. Sertifikat;
  3. Rencana Studi;
  4. Sertifikat bahasa (mis. TOEFL, IELTS);
  5. Surat Pernyataan
  6. Surat Izin Belajar
    Aku nggak upload ini karena sekarang masih freelancer.
  7. Surat Rekomendasi
    Paling mudah dari dosen. Kalau mau dari Walikota/Gubernur, kayaknya juga boleh. Atau tokoh lain yang ahli di bidangnya.
  8. LoA (Letter of Acceptance) dari Universitas
    Aku juga nggak upload ini karena kemaren belum ada. Berdasarkan pengalaman awardee yang lain, lebih baik mendaftar di universitasnya jangan yang cepet berangkat, takutnya proses seleksi belum selesai tapi perkuliahan sudah dimulai. Dalam kasus seperti itu, biasanya mereka gugur karena udah nggak keburu.
  9. KTP
  10. 4 Judul Esai.

Dari semua berkas persyaratan ini, teman2 aku banyak yang ngerasa bagian yang susah tuh di esai. Esai yang diminta untuk BPI hanya 2: Peranku untuk Indonesia dan Sukses Terbesar dalam Hidupku. Tapi kalo mau diikutkan ke BPRI, maka esai nya nambah dua (alamak!) Rencana Karir dan Pengabdian Setelah Studi.

Esaiku tentang ‘Peranku untuk Indonesia’ isinya adalah cerita pas masihh PPL (praktek lapangannya calon guru). Sukses Terbesar dalam Hidupku isinya adalah tentang masa depan (karena aku menganggap sampai sekarang masih belum sukses, jadi saat ini sedang berupaya untuk mendaki tangga kesuksesan itu).

Setelah semua berkas komplit, baru deh di submit. Tinggal tunggu pengumuman hasil seleksi.

2. Seleksi Wawancara (dan menulis esai super kilat)
Seleksi wawancara adalah seleksi selanjutnya setelah calon dinyatakan lolos seleksi administrasi. Kalau nggak salah, pengumuman kelulusan tanggal 21, tanggal 28 September tes wawancara. Pas tes harus bawa berkas-berkas (di jelasin dalam email dari LPDP).

Sebelum wawancara, kami disuruh untuk nulis esai super kilat. Se kilat apa? Jadi kami cuma punya waktu kurang lebih 15 menit buat baca suatu wacana di satu lembar HVS, dan mengomentarinya. Dilakukan 2 kali berturut-turut. Wacana pertama adalah tentang Sistem Pendidikan di Indonesia, sedangkan wacana kedua tentang Sistem Pemilihan Umum. Peserta diminta berandai-andai menjabat sebagai menteri dan memberikan solusi yang dapat diimplementasikan untuk memperbaiki kondisi yang ada. Asik banget sih, tapi diburu waktu juga. Pertanyaannya asik dan nantangin, salah satunya bunyinya kira-kira kayak gini: Jika anda menjadi menteri pendidikan, apa langkah pertama anda  (amiiiin!!). 5 menit untuk baca wacana, dan 5 menit untuk nulis esai.

Seleksi wawancara dilakukan dalam waktu kurang lebih 45 menit per orang. Peserta seleksi wawancara akan berhadapan dengan 3 orang reviewer yang terdiri atas 2 orang akademisi dan sat orang psikolog (akademisi juga sih sebenernya). Saat seleksi wawancara peserta akan ditanyai tentang hal-hal yang berhubungan dengan studi dan beberapa hal yang sifatnya personal.

Seleksi wawancara itu kayak untung-untungan. Kalo lagi beruntung dapat reviewer yang baik, senyum, dan nggak intimidatif (ada juga yang suka nebak-nebak tentang fun fact nya kita), tapi ada juga yang bisa ketemu dengan yang nyeremin, intimidatif, dan mungkin udah capek/bosan nge review.

Kemarin alhamdulillah dapat yang sedang sedang saja😀. Dua ibu-ibu, dan 1 bapak. Setelah mereka nanya tentang nama dan asal mana/domisili, mereka langsung to the point aja tuh nanyain tentang studi. Kenapa mau sekolah di sana? Kelebihan univ nya apa? Gimana studi itu bakal bantu karir? Penelitiannya mau apa? Itu semua sudah ada dalam Rencana Studi (mereka jadikan itu sebagai acuan).

Esainya juga ditanyain, kemarin yang banyak mereka eksplor di bagian rencana karir dan pengabdian setelah lulus. Gimana cara meraih hal-hal tersebut. Satu hal yang saya ingat,kata-kata Bu Ratna pas PK yang mungkin bisa menjelaskan gimana cara melalui part ini adalah: “Kami (LPDP) ingin membedakan antara pemimpi dan pemimpin.”.

Mereka juga nanya tentang sikap kalo ditawarin kerja di luar negeri (Aku apply Master of Teaching di University of Melbourne). Ya aku jawab aja nggak mau, soalnya mau balik ke sini, punya janji sama senior (kak Noviar) dan dosen. Terus tambah nanya/ngorek, misalnya, gimana kalo gaji nya tinggi, atau kan masih bisa berkontribusi ke negara juga walaupun di luar negeri, atau gimana kalau ternyata malah betah tinggal di sana. Yah, to be honest, aku ngga tertarik tinggal lama-lama di negeri orang sih (walaupun suka jalan-jalan ke sana), jadi aku bilang aja nggak, soalnya enakan di sini (I mean, how can I leave nasi kuning, lontong segitiga, lupis dkk).

Habis itu, esai kilat yang dibikin sebelumnya juga jadi bahan pertanyaan mereka, misalnya mereka nggak ngerti dengan beberapa poin, mereka langsung nanyain “untuk bidang pilkada ini kami masih belum bisa menangkap apa maksud/inti kamu, bisa dijelaskan?”

Mereka juga nanyain gimana kalau ntar homesick, atau nggak bisa adaptasi di sana. Tapi menurut aku pertanyaan paling ‘wah’ di hal personal itu, ini: ‘kelemahan kamu apa?’. Mereka nanyanya casual aja, tapi itu penting (kayaknya). Aku jawab aja sejujur-jujurnya: Saya susah dekat sama orang baru.

Wawancara nya sersan (serius tapi santai), entah karena reviewernya atau karena jawabanku yang makin ke sini makin nggak formal. Ketika pertanyaan yang berhubungan dengan esai habis, diganti dengan pertanyaan yang agak personal, entah kenapa aku jadi kayak anak SMA yang lagi curhat sama guru BK nya (aku bahkan main-mainin jari di meja antara aku dan reviewer). Let’s say, I unconsciously  became childish when interviewed by them.

I wasn’t really confident, though. Aku ngerasa banyak lubang-lubang kegagalan dalam wawancara, but that’s the best I could do.  Aku kira aku bakal gagal. Sama sekali nggak nyangka bahwa beberapa waktu kemudian, pemberitahuan kelulusan bakal masuk ke email. Tepatnya 26 September 2014.

Eits, bukan lulus dan udah dapet beasiswa, tapi masih harus melanjutkan ke Seleksi Tahap Akhir yang dilaksanakan tanggal 30 September 2014. Kaget banget, di hati dan di dompet :’). Soalnya seleski ini berlokasi di IPSC Bogor, sedangkan aku berdomisili di Kalimantan Selatan. STA dilaksanakan selama 4 hari, dan pengumuman kelulusan dilakukan 3 hari kemudian.

So, I prepared myself for next thing that I were going to face, with faith and du’a from families. Bismillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s