Tanah Itu Memanggil, Pegunungan Meratus

Sudah kurang lebih tiga tahun sejak terakhir aku melakukan pendakian ke Kahung. Itu adalah pendakian terbesar yang pernah kulakukan. Kenapa terbesar? Karena kesibukan kuliah yang saat itu kurasa tak bisa ditinggalkan (padahal mungkin sebenarnya bisa) menyebabkan aku tidak bisa lagi melakukan pendakian yang lain.

Sekarang, dengan deadline untuk segera meninggalkan bumi pertiwi, tiba-tiba tanah itu seakan memanggil lagi untuk dijamah, mungkin yang terakhir kalinya sebelum kutinggalkan pergi. Mungkin kembali ke Kahung, atau ke Halau-Halau, salah satu keinginan yang belum pernah dituluskan.

Aku merindukan rimbun pepohonan besar, jalur yang masih harus di buka, lintah dan pacet yang menghisap darah tanpa ampun, mencuci nesting di pinggir sungai yang mengalir deras, rasa haus yang harus ditahan karena persediaan air yang menipis sebelum mencapai basecamp, suhu yang dingin karena hujan yang datang tanpa diundang, langit malam berhambur bintang, dan bintang jatuh yang tak terhitung.

Tapi yang paling penting kebersamaan di kala pendakian. Aku sadar tujuanku bukan puncak, tapi kebersamaan itu. Perjalanan bersama sejumlah orang yang akhirnya tidak hanya menjadi sebatas kenalan namun menjadi sahabat seperjuangan. Aku pernah punya rumah, dengan abang, adik dan saudara/dingsanak yang mengaku semuak seliur. Keegoisan harganya mahal, dan aku mengorbankan banyak hal tanpa ku tahu.

Dan kali ini tanah itu memanggil. Jika langkah ini sampai, aku ingin melakukannya dengan mereka lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s