Mimpi yang Salah

Sewaktu kita kecil, biasanya ada saja orang dewasa yang mendekat sambil tersenyum lalu bertanya, “nanti kalau sudah gede mau jadi apa?”

kemudian beberapa dari kita akan menjawab, Astronot! sebagian yang lain menjawab, Guru! Pilot! Polisi! Dokter! Presiden! Bajak Laut! (Mungkin dia baru saja di selamatkan oleh Shanks si rambut merah).

Saat itu rasanya tidak pernah dengar ada yang bilang, PNS!

Kemudian dari hari ke hari kita semakin mengenal dengan dunia. Kita diajari untuk terus berjalan di tempat yang aman, kita diajari bahwa mimpi hanyalah bunga tidur, dan pertanyaan tentang cita-cita hanyalah bagian dari masa TK, jenjang pendidikan yang ijazahnya saja tidak pernah diminta saat kita kuliah. Kita diminta untuk mulai memahami bahwa orang tua kita bekerja membanting tulang untuk kita dan kita harus tahu diri, untuk tidak menuntut terlalu banyak.

dan sebagian besar dari kita mulai menyerah kepada kebutuhan yang semakin hari-semakin menunjukkan kuasanya pada kita. Uang.

Beberapa dari kita akan mengakuinya tanpa ragu bahwa memang benar, pada akhirnya yang ada di kepala kita–misalnya bagi yang sudah lulus kuliah, atau yang sudah mengecap kepahitan hidup dari umur yang lebih dini–adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan uang untuk menyambung hidup di esok hari. Teriakan keras  penuh semangat dari mulut kita ketika kita menyebutkan “Astronot!” saat berumur 5 tahun itu kini sudah tak terdengar lagi gaungnya. Cita-cita kita sekarang berubah, ingin jadi kaya, dan hidup enak.

Menjadi materialistis adalah hal yang wajar, normal. Ketika ada orang yang menunjukkan sifat altruistik kuat, yang membuatnya seakan-akan tidak peduli uang, orang-orang yang dekat dengannya akan khawatir dan mengingatkannya, “mau jadi apa nanti kalau kamu tidak fokus untuk kerja dan cari uang?”

Orang seperti ini banyak, dan tulisan ini tidak bermaksud untuk menyalahkan mereka. Benar, di dunia ini kita tidak bisa hidup tanpa uang.

Kemudian kita melihat dengan kacamata yang lain, yang lebih blur, yang menutupi pandangan kita dari instagram teman yang berisi foto berjemur di pantai pribadi di Bali, yang check in Path di Maldives dan  mengirim status melalui handphone Samsung S5. Kita melihat Indonesia, dan setiap orang yang memanjat tangga sosial tanpa peduli menilik ke bawah. Bawah tempat anak-anak tak cuukup gizi menangis karena sakitnya tak segera diobati di rumah sakit yang lebih memprioritaskan orang-orang dengan kocek yang lebih banyak. Bawah tempat nenek yang mencuri buah dikenakan hukum yang lebih berat daripada koruptor dan penjahat HAM. Bawah, tempat mereka yang berada di perbatasan terluar Indonesia yang mendapatkan kesenjangan fasilitas. Bawah tempat daerah-daerah rawan konflik seperti Poso.

Kita telah salah memilih mimpi.

Kenapa kamu ingin jadi dokter? Supaya bisa mengobati orang sakit.

Berapa banyak anak seperti ini yang tetap konsisten menjadi dokter? Dan berapa banyak alasan seperti ini masih menjadi dasar praktek-praktek mereka sehari-hari?

Kenapa kamu ingin jadi polisi? Supaya bisa mengobati menangkap orang jahat.

Berapa banyak polisi-polisi kecil ini yang terus konsisten dengan alasan mulia mereka.

Berapa banyak pula yang sudah berubah menjadi pemburu harta sambil disaat bersamaan menginjak-injak masyarakat yang seharusnya mereka layani?

Ketika kita melakukan pekerjaan kita karena hati, maka rezeki akan mengikuti. Jika tidak berupa uang, mungkin dalam bentuk lain yang membawa kepada kebahagian yang lebih baik. Jika tidak di dunia, mungkin di kehidupan selanjutnya.

Luruskan mimpimu. Jika mimpimu adalah untuk mengabdi, maka mengabdilah. Jika bukan, maka pastikan saat kau mewujudkan mimpimu, kamu mampu memberikan kebaikan pada orang lain dan bukan sebaliknya.

 

 

Tulisan ini di buat, bukan untuk menggurui, namun untuk mengingatkan diriku sendiri, bahwa kebaikan yang dapat dilakukan tanpa menunggu jadi orang kaya sejahtera. 

2 thoughts on “Mimpi yang Salah

  1. miladiah says:

    thnks pengalaman2nya, coz aku bener2 sedang pesimis, gara2 dosen S2 ku lama bgt mau acc,, krn dia mau perfect,coz dr s1-s3 dia lulusan caumlade,,, jadi dia tidak mau di malu2in dgn hasil proposal tesis aku yg menurutnya sllu kurang. aku fikir kalo susah kayak gini berhenti aja deh… uang uda habis 30 jt. ini mau masuk semester 5. uda 2 thn lbh,, utk S2 mestinya aku uda selesai kyk temen2 ku yg laen…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s