Don’t Trust Your Brain! Sejarah Dikaburkan oleh Memori

Dalam satu tahun terakhir National Geographic suka banget nayangin tentang kerja otak yang menakjubkan dan menyenangkan. Misalnya seperti mini series Brain Game, dan yang paling awal (rasanya) waktu itu adalah Test Your Brain. Menurut aku, hal yang paling menarik adalah: bagaimana otak kita sesungguhnya tak bisa dipercaya!

Yep, beberapa episode yang aku ikuti memperlihatkan kondisi di mana otak kita sering mengelabui kita. Bukan dengan maksud buruk tentu saja. Salah satu episode TYB (Test Your Brain) mengujikan suatu kondisi di mana semua partisipan melihat terjadinya pencopetan. Selanjutnya mereka diminta bersaksi untuk menentukan pelaku yang sebenarnya (dan diarahkan). hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar saksi memberikan keterangan yang keliru bahkan mengada-ada tentang ciri-ciri pelaku. Wow! So much for court system, right? Ini memperlihatkan bahwa, ya, memang ada kelemahan dalam sistem pembuktian kita. melihat bukan berarti membuktikan. karena otak kita bisa jadi memproses informasi secara berbeda dari apa yang sebenarnya terlihat di depan mata kita.

Pada percobaan yang lain dalam series Brain Games, juga diperlihatkan suatu kejadian tabrakan. Ketika saksi ditanyakan tentang detail dari kejadian tersebut (dengan pertanyaan yang mengarah kepada kesalahan) mereka jatuh dalam perangkap dan membenarkan hal-hal salah tersebut (dalam tes ini hal salah disisipkan sebagai trivia yang tidak penting, tapi fatal).

Otak kita memproses informasi yang dilihat dan menyimpannya dalam ingatan. Tapi selanjutnya ada hal lain yang dilakukan otak kita, otak dengan kreatif menambal informasi yang samar-samar di kepala kita untuk menghindari kebingungan (CMIIW, seriously).

Menurutku hal ini¬†harus jadi suatu pertimbangan atas semua penelitian yang didasarkan pada ingatan. Seperti penarikan informasi dari saksi kejahatan…

Aku langsung teringat pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti sejarah, yang hanya didasarkan pada satu sumber. Peneliti mencari cerita, penuturan tentang masa lalu dari satu orang tokoh, yag bisa jadi ingatannya sudah termodifikasi dan memberikan informasi yang berlebihan, atau berbeda daripada yang seharusnya.

Hal ini tentu sudah diantisipasi, beberapa waktu yang lalu tentu sudah ada orang berpendapat tentang ‘bisa jadi si penutur berbohong’, ya bisa jadi. Tapi sains membuktikan bahwa ada hal lain yang jauh lebih berbahaya daripada kebohongan sadar, yakni tambalan informasi yang dilakukan oleh¬†otak tanpa disadari subjek.

Bagaimana sebaiknya hal ini di hadapi? Aku sendiri tidak tahu. Sepertinya memang ada sejumlah penelitian yang dilakukan untuk menghilangkan kelemahan terkait kebenaran cerita penutur. Tulisan ini hanya ingin menandai bahwa, ini adalah suatu kekurangan yang masih belum biasa dilihat secara nyata oleh para peneliti yang cenderung pada ingatan satu orang subjek saja. Sejarah yang belum terarsip memang sesuatu yang hanya ada dalam ingatan. Ada baiknya jika kita bisa memastikan bahwa ingatan yang dijadikan sebagai sumber sejarah tersebut bukanlah ingatan yang bolong-bolong dan ditambal.

Kalau ada niat nulis, langsung tulis!

Mungkin itu yang harus aku tekankan pada diriku sendiri. soalnya kemaren, aku dapat ide untuk menulis sesuatu yang rada serius, ilmiah, ada hubungannya dengan psikologi. Tapi kemudian aku tunda karena aku merasa harus membaca lebih banyak lagi

 

kacaunyaa…

I think I read too may stuff…. And I forget what was the things that so exciting I was about to write earlier! Damn me!

Aku mau bikin list dulu tentang hal yang aku baca kemaren

1. Teori motivasi yang baru (berdasarkan buku Drive: The surprising Truth about what motivates us)

2. Bagaimana Internet mempengaruhi otak kita (dan membuat cara pikir manusia berevolusi, wow *ini cuma istilahku yoooo*)

3. Teori motivasi Maslow dan kelakuannya Maulani yang lepas dari basis teori tersebut.

 

semua topik itu rasanya mebuncah di kepalaku, sempat sangat excited¬†tapi …¬†Aku lupa semuanyaaaaa…..

I must pay myself back about this one later.