Jadi, Alasan Mereka ke Luar Negeri Itu Gini Loh……

Greetings!! Sudah sekian lama *sigh* *tiup2 debu dan kelabang di blog*

Akhirnya gue nulis lagi bro! Thanks to @Rahman_fauzi to remind me to walk from my hiatus. Ini kalo ngga disebut-sebut urusan ngeblog ini kira-kira entah kapan disentuhnya banyakgaris ini :’) tapi mikir tulisan apa yang mau dipost itu lumayan susah (secara sok perfeksionis) selain itu nyari waktunya juga nggak ada (secara sok sibuk). kemudian tengah malam dapat ilham. nulis deh. ( >o<)b

So, here’s the case. Tentang orang-orang hebat di indonesia kenapa ke luar negeri? Biasany mereka menjawab karena kurang dihargai di negeri sendiri. Well, is that really all of the excuses. Well I think i found something. Pemikiran ini ditemukan saat sedang melamun (yeah, i do that a lot, like… A LOT). Tentang orang-orang hebat di Indonesia yang sekarang ada di luar negeri. Mereka-mereka yang dikatakan kurang dihargai dan sebagainya. Pemikiran ini sendiri, ehem, menurut saya, agak sedikit kurang tepat. Kenapa, well, here is my reasoning:

Coba langsung kita lihat aja kasusnya: Pak Habibie yang sekarang went overseas. Yak kita semua tahu beliau sekarang ada di luar negeri, bahwa beliau pernah bikin pesawat terbang dan lainnya. Beliau sangat cerdas dan sebagainya (dikatakan tanpa bermaksud mendiskreditkan, hanya saja terlalu banyak pujian untuk beliau, mari kita singkat, sebab bukan itu konteks pembicaraan kita, olrait?) Selain itu seperti Ibu Sri Mulyani yang sekarang juga lagi kerja di luar negeri. Nah, selain itu juga banyak ilmuan kita yang kerja di perusahan-perusahaan luar negeri. Point? Mereka semua cerdas, kompeten, luar biasa.

Dan Indonesia tidak mengerti bagaimana cara memberdayakan mereka.

See. Kenapa saya bilang begitu? Mari kita lihat gambaran umum saja.

Ambillah seorang ilmuan fisika, ia sangat cerdas, dengan banyak ide di kepalanya, dengan banyak percobaan ilmiah menunggu di wujudkan melalui tangannya. Untuk itu, mereka perlu pendanaan. Ketika kita bicara masalah pendanaan untuk hal yang sifatnya eksperimental, tidka hanya di Indonesia, di dunia ini pun untuk biasa mendapatkan pembiayaan itu, para ilmuan harus berjuang untuk mencari sponsor yang au mendanai proyek mereka itu. Sudah pernah baca, ilmuan fisika kuantum di amerika sampai hari ini masih tidak bisa melakukan eksperimennya hanya karena terhalang dana 20.000 dolar? Jika dibandingkan dengan proyek fantastis lain di dunia ilmu pengetahuan, 20.000 dolar itu sangat sedikit, tapi karena ‘idenya dianggap terlalu mustahil’, there he is, eksperimen terhenti.

Di Indonesia, sampai saat ini, pemerintah perhatiannya sangat kecil sekali untuk hal-hal yang bersifat pengembangan, discovery, Mereka lebih mengutamakan peningkatan kesejahteraan yang sifatnya hanya ‘sekarang’ daripada pengembangan teknologi berorientasi ke masa depan yang lambat jalannya (dan seringnya dianggap tak membuahkan hasil, padahal eksperimen adalah memang hasil dari try and error). Habislah nasib ilmuan jika mengharap rengkuhan hangat dari pemerintah.

Kemudian perusahaan lokal, sejauh ini, wiraswastawan saja hanya sejumlah 3% (CCMIW, I forgot the exact number. I guess that’s what my lecturer said, I was asleep/daydreaming at class by the way) dari JUMLAH SELURUH ORANG INDONESIA. Nah, sebagian dari mereka itu berapa banyak sih yang bisnisnya ke arah teknologi? Nggak pernah kedengeran ada perusahaan lokal bikin perusahaan henpon, perusahaan mobil. Sejauh ini paling banter sifatnya ada software. Untuk hardware>>none. APALAGI FISIKA KUANTUM! Baik. Mari kita tutup kemungkinan ilmuan kita kerjasama dengan perusahaan lokal.

Nah, kemana lagi mau nyari sponsor? Terpaksalah kabur ke negara lain, dengan fasilitas memadai, dengan banyak peluang pembiayaan (dengan syarat-syarat tertentu yang mengikat tentu saja). Dan itulah, para ilmuan ini pindah keluar, mengejar mimpinya, untuk melakukan sesuatu yang lebih bagi dunia.

Kasus lain, udah berapa kali sih, National Geographic tuh ke Indonesia urusan wildlife dsb. MEREKA NYARI LOH KESINI!!! Dan kita membengkalaikan semua spesies2 itu begitu saja tanpa ada bantuan untuk mengembangkan ke arah yang lebih advanced supaya kita bisa lebih merajai apa yang kita miliki (kembali ke pengaturan anggaran APBN yang lebih mementingkan urusan perut). Selain itu, tentang global warming. Sampai hari ini, urusan tata kota itu nggak beres. Bangun aja ruko di mana-mana, sedangkan di luar negeri mereka memanfaat setiap arsiteknya untuk mulai membuat rumah ramah lingkungan. Misalnya gimana supaya pencahayaannya maksimal, angin bisa masuk. Nggak cuma kotak2 tok, isi lampu banyak2 sama AC kenceng2. Udah deh. Jantung dunia ini kerjaannya makin ke sini makin bolongin ozon aja. Arsitek? Itung aja deh anak SMA yang mau jadi arsitek lalu dimarahin sama orang tuanya karena ngga dianggap pekerjaan yang menjanjikan. Nah kan nggak kepake lagi orang pintar cerdas dan kreatifnya =) (kayaknya makin ke sini makin ngomel, baiklah mari kita sudahi).

Itu baru contoh untuk ilmuan, bidang eksakta, belum lagi sosial. Nggak berani biacara di bidang ini, soalnya saya emang lebih ngerti kausalitas permasalahan ilmuan sih.

Ketika kita bicara orang-orang cerdas, mereka pemikirannya sudah beyond. Kalau kita tidak bisa mengakomodasi, mereka akan berterbangan seperti elektron bebas, dengan idealismenya mencari apa yang bisa dilakukannya. Dan sejauh ini, memang negara kita selalu kebingungan ketika memiliki orang-orang lebih seperti ini, pertanyaannya selalu=mau ditaroh dimana?? Semakin abstrak keuntungan yang diperoleh, semakin tidak menguntungkan untuk pribadi, semakin terbengkalailah urusan mengikat elektron-elektron berenergi ini.

Goodby Beautiful Mind People😥

 

*Sorry for typos. I do that a lot

One thought on “Jadi, Alasan Mereka ke Luar Negeri Itu Gini Loh……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s