Rumusan Pendidikan Karakter Naif di Indonesia

Indonesia begitu takut. Seakan tidak ingin kehilangan jati diri, pemerintah kita mulai mencanangkan kebijakan tentang adanya pendidikan  karakter di sekolah. Ada 18 macam karakter yang harus ditanamkan pada siswa, yang kesemuanya dianggap merupakan nilai-nilai yang terpuji yang seharusnya ada dalam setiap diri Bangsa Indonesia yang sekarang maupun akan datang. Perumus kebijakan seakan meyakini bahwa nilai-nilai ini merupakan karakter luhur bangsa yang digali dari warisan kebudayaan dan diri setiap masing-masing bangsa Indonesia. Namun hal yang menarik adalah, kenapa harus begitu khawatir?

Nilai-nilai dirumuskan satu persatu secara rinci dengan masing-masing indikator. Indikator di sini berfungsi untuk mengukur apakah seorang individu sudah memiliki karakter-karakter tersebut. Indikatornya berupa pola pikir abstrak individu, pandangan hidup. Seakan-akan tertulis bagaikan suattu titah suci, karakter manusia dirumuskan dalam undang-undang, dijadikan suatu keharusan. Padahal jika memang karakter tersebut adalah karakter bangsa kita, kenapa pemerintah seakan-akan begitu takut karakter ini akan begitu mudahnya terkikis karena gempuran globalisasi dari segala penjuru. Mungkinkah, ini hanya mungkin, sebenarnya karakter-karakter ini bukanlah suatu karakter bangsa yang sebenarnya. Tapi hanya rumusan naif berdasarkan kebenaran yang relatif?

18 nilai yang dirumuskan dalam undang-undang adalah sebagai berikut: Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komuniktif, Cinta Damai, Gemar Membaca,  Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung-jawab. Apakah nilai-nilai ini dirumuskan dengan cara melihat karakter bangsa ke belakang? Ke depan sebagai suatu visi atau melihat kondisi kurangnya karakter tersebut di masa sekarang?

Diharapkan dengan memiliki karakter ini Bangsa Indonesia tidak akan kehilangan jati dirinya ketika harus berhadapan dengan arus global. Mungkin ada baiknya jika sebelum melihat pada 18 karakter ini kita melihat terlebih dulu pada bagaimana kondisi masyarakat Indonesia di masa sekarang. Saya bukanlah ahlis sosiologi atau sejarawan untuk mampu melihat ini. Namun saya hanya mencoba melihat ini dari prespektif saya sebagai manusia Indonesia sendiri, sehingga tulisan ini sendiri bisa memperlihatkan bagaimana seorang indonesia  biasa berfikir. Tentu saja saya tidak mengangkat diri saya sebagai satu wakil representatif atas mayoritas atas kondisi karakter bangsa Indonesia.

Bagi saya, Indonesia adalah negara yang mudah terpukau dan tak mau menjadi berbeda serta mengagung-agungkan negara lain dengan berlebihan. Kita bangsa yang penakut, terlalu minder untuk melihat diri sendiri cukup baik dan terlalu tak peduli terhadap diri kita sendiri. Saya mengatakan ini berdasarkan apa yang saya lihat, walaupun tidak dalam bentuk survey namun saya yakin beberapa cerita yang akan saya suguhkan cukup representatif, mungkin dapat anda temukan dalam kehidupan anda sehari-hari.

Sebagai mahasiswa saya melihat berbagai macam manusia di kampus. Dan sebagian dari mereka adalah orang yang cenderung menyukai hal-hal yang sifatnya dari ‘luar negeri’ baik itu dari barat (Amerika, Eropa), atau timur (Korea, Jepang). Ketika mereka sudah menyukai hal itu, yang menarik adalah mereka hanya terus mencoba untuk menjadi bagian dari hal tersebut. Mereka masuk ke dalam dan bukannya menari sesuatu ke luar, dan hal ini adalah hal yang mudah untuk dilakukan oleh mereka. Mudah bagis eorang Indonesia untuk memeplajari bahasa Inggris, mudah untuk seorang Indonesia mempelajari bahasa Korea. Tidak hanya berhenti di situ, mudah juga bagi orang Indonesia untuk mempelajari budaya mereka cara berfikir mereka. Intinya, sangat mudah untuk seorang Indonesia mengimitasi suatu kultur yang berbeda secara keseluruhan. Apa? Apa yang terlihat dalam kondisi ini? Toleransi kah? Ya, kita puya tingkat toleransi yang tinggi. Kita cepat sekali beradaptasi. Orang Indonesia jauh di dalam dirinya memang pada hakikatnya mudah menerima sesuatu tanpa prasangka. Apalagi jika hal itu adalah nilai-nilai yang baik atau mungkin setidaknya tidak dianggap buruk. It’s okay as far it didn’t violate anything.

Indonesia pada hakikatnya bukanlah bangsa yang begitu membentengi diri sendiri karena takut terjerumus. Bukan. Seperti anak kecil yang begitu pansaran dengan apa yang ada dalam lubang di hutan belakang rumah dan akhirnya terus mengikuti lorong itu terus sampai jauh. Mampu kembali atau tidak itu urusan nanti.

Berbeda dengan orang jepang. Kenapa Jepang? Karena saya ngertinya sementara cuma itu, hehe. Mereka adalah bangsa yang unik. Terletak di timur jauh Asia. Beruntunglah mereka terlambat bertemu dengan dunia Eropa dan Amerika sehingga mereka bukanlah menjadi si negara terjajah yang bangkit namun negara yang ikut dalam perang besarnya (walaupun mungkin jika mereka bertemu dengan eropa dan amerika lebih dulu daripada seharusnya, tidak ada yang tahu juga bagaimana reaksi mereka). Ketika bertemu dengan bangsa lain, yang dilakukan Jepang adalah menutup diri. Mereka hanya membiarkan satu pulau saja sebagai tempat bangsa asing berkomunikasi dengan mereka. Selanjutnya seperti seorang peneliti, mereka mengamati bangsa lain dari luar, mengambil kesimpulan sendiri, menambahkan komentar mereka. In mengingatkan saya pada apa yang dilakukan oleh kerajaan Islam di masa-masa keemasan islam. Para pemikir yang mengamati dan merumuskan pemikirannya sendiri, mengambil objek ke luar dan bukannya masuk kedalamnya lalu tenggelam. Dengan cara ini keduanya terus maju menjadi suatu bangsa yang memiliki pandangannya sendiri. Mereka tidak mencoba untuk menyamakan pandangan mereka dengan pandangan bangsa lain (atau dalam hal ini bangsa yang diamatinya) karena mereka menganggap mereka sendiri jauh lebih superior. Kalaupun iya, maka mereka akan tetap menjadi diri mereka sendiri (dengan kometar-komentarnya itu) sehingga, anggaplah si peneliti ini membuat buku, maka buku itu adalah sebuah buku berkarakter dia sendiri dan bukannya terusan hasil pemikiran orang lain.

Selanjutnya Jepang terus maju dengan cara seperti itu. Bisa dibilang mereka terlalu percaya dengan pandangan mereka sendiri dan tidak jarang salah tafsir (hal yang masih sering terjadi sampai sekarang) tapi mereka malah menjadi sesuatu yang baru itu sendiri. Formula hasil kmbinasi antara kebudayaan bangsa lain dan bangsanya sendiri, yaknis esuatu yang memang benar-benar ada di dalam individu tersebut menjadi sesuatu yang baru yang orisinil. Begitulah abstraknya. Kondisi nyatanya ambillah contoh sebagai berikut. Di bidang fashion di Jepang, ada suatu mode yang cukup aneh hasil adopsi bangsa jepang. Kepopuleran ‘Maid’. Ini diadopsi dari kebudayaan di eropa, yakni para pembantu di rumah besar yang memakai seragam dengan desain standar. Bagi orang-orang di eropa hal ini sama sekali bukanlah sesuatu yang begitu penting, apalagi di bidang fashion. Tapi di Jepang hal ini benar-benar suatu trend yang terus menerus ada dari zaman dulu hingga sekarang. Orang Jepang semacam mengambil asumsi terdistorsi atas hakikat ‘pembantu berseragam’ tersebut dengan loyalitas pembantu di Jepang dengan sejumlah pemikiranh yang hanya tumbuh di kultur mereka sehingga pada akhirnya, pembantu biasa-biasa saja di Inggris menjadi semacam primadona di di Akihabara.

Ada kekaguman, ada pemujaan. Ya. Tapi tidak bulat-bulat itu saja, karena adanya kepribadian dan kultur bangsa Jepang menyebabkan distorsi makna sehingga kahirnya mereka sebenarnya malah menciptakan sesuatu yang baru dan berkarakter mereka sendiri. Distorsi ini tentu tak akan terjadi jika karakter mereka tidak sudah dari sononya begitu. Jauh dalam hati mereka ada sebagai orang jepang yang cenderung apatis dan menarik diri, mengamati dari luar dan mengambil hal yang diperlukan saja. Ini sudah menjadi bawaan mereka sendiri.

Selanjutnya dalam bidang kehidupan intelektual di bangsa kita. Bukankah sudah bukan rahasia lagi, jika rujukan dari asing dalam penulisan karya ilmiah akan lebih dihargai. Pada beberapa kondisi, malah sebuah karya ilmiah bisa tidak diakui keilmiahannya hanya karena kurangnya referensi baik dari Indonesia sendiri terlebi dari asing. Kemudian bangsa kita hanya bisa ternganga ketika gagasan tanpa referesni kemudian menjadi temuan asing yang dianggap gemilang. Ya, hal itu bukan yang terjadi? Pendidikan karekter di puja-puja tidak sebelum orang asing menganggapnya penting. Ada masa-masa di mana pencapaian akademis jauh lebih penting daripada akhlak yang terpuji. Bukankah tidak pernah ada sekolah yang meluluskan anak muridnya ketika hasil ujiannya hanya di bawah standar karena kesalahan teknis, walaupun setiap hari dia rajin beribadah, baik kepada teman serta aktif dalam berorganisasi dan pengembangan bakatnya. Oh, bukankah hal ini masih terjadi ya? Haha… katanya pendidikan karekter… ketika karakternya sudah bagus lalu, akademiknya kurang baik, lalu karakter dianggap tidak lagi penting begitu? Padahal bukankah seharusnya yang dicetak oleh sekolah-sekolah adalah anak-anak yang tangguh dalam menghadapi kondisi global? Bukankah anak ini sudah terbukti tangguh?

Sebegitu jauhnya kita sudah mengadopsi (atau dibaptis) gaya pendidikan dari barat (sampai ke fase penididkan karakter) tapi kemudian kita kembali primitif lagi dengan hanya melihat kualitas pada satu sisi saja (kognitif) dengan alasan selanjutnya lembaga kita tak bisa mengukur afektif siswa. Oke, lama kelamaan ini semua jadi semacam omong kosong (baik kondisi ini maupun tulisan saya).

Yang menyababkan pemerintah mungkin merasa takut dengan kehilangan karakter bangsa kita dalah kondisi ini. Konidisi bahwa sebenarnya bangsa Indonesia karakternya sudah sebegitu jauh terpuruknya. Bangsa indonesia seperti sosial climber yang terus mencibir ke bawah dan terus menatap ke atas dengan tujuan yang terus berubah dengan mengikuti kondisi pemikiran masyarakat global. Bangsa Indonesia kehilangan arah mencari jati diri, merumuskan 18 karakter bangsa dan berusaha tegar melawan arus angin yang semakin kencang. Sedangkan masyarakatnya merupakan masyarakat yang begitu terbuka dan kemudian tersihir pergi karena dunia terlalu menarik sehingga akhirnya lupa jalan pulang.

Mungkin sebenarnya bukan 18 karakter itu yang seharusnya dirumuskan oleh pemerintah. Bagi saya, ada hal yang lebih penting untuk dijadikan pegangan oleh bangsa kita. Karakter yang terbentuk bisa apa saja, namun dengan memegang ini maka bangsa Indonesia bisa terus kokoh berdiri di arus global. Belajar pada sejarah, bersikaplah ilmiah dan gunakanlah hati. Sejarah bukanlah sejarah tragedi perjuangan bangsa saja, tapi apa-apa saja peninggalan nenek moyang. Bahkan agama pun lahir di masa lalu, hal ini sudah cukup untuk menjadi titik tolak bangsa kita untuk terus menjadi suatu bangsa sendiri. Bersikaplah ilmiah, agar mampu menyaring peninggalan-peninggalan apa saja yang dapat diteruskan sesuai dengan kondisi di masa sekarang. Bersikap ilmiah juga berarti jujur dan realistis, tapi tak menutup kemungkinan adanya inovasi hasil imajinasi (karena dalam berfikir ilmiah ada hipotesis). Dan terakhir gunakanlah hati. Agar peninggalan masa lalu, pemikiran maju di  masa sekarang bisa terus sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan kita. Saya rasa, tiga ini sudah cukup.

 

Mohon maaf atas tulisan yang agak terlalu kacau balau dan sedikit terlalu emosional. Saya menulisa tidak pakai kerangka, hanya membiarkan jari saya menari di atas keyboard dengan ritme cepat sebab ktakut aliran pemikiran di kepala in tiba-tiba tersumbat oleh paman eskrim yang lewat di gang sebelah rumah J

2 thoughts on “Rumusan Pendidikan Karakter Naif di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s