Catatan Perjalanan Latihan Tiga Divisi-Day 1

Jumat, 25 Maret 2011

Jika ada satu jenis cerita yang ingin kutulis, maka itu adalah cerita misteri. Tapi sayangnya, hingga hari ini, tidak ada satupun ide yang pernah berubah wujud menjadi bentuk tulisan. Alasannya jelas, faktor M, alias ‘malas’.

Tapi bagi yang membaca tulisan ini, aku tekankan, tulisan ini bukanlah cerita misteri. Jadi, buang jauh-jauh pemikiran bahwa dalam catatan ini, kau akan menemukan seonggok mayat atau barang antik yang tiba-tiba mengeluarkan asap dan melakukan hal-hal tidak masuk akal seperti terbang atau menghilang. Yang kau baca sekarang adalah suatu cerita menuju puncak yang penuh dengan lintah, dunia miring dan serangan hujan yang selalu datang pada saat yang tidak tepat.

Cukup pengantarnya. Here we go.

Aku tidak terlalu tahu apa yang terjadi di Sekretariat IMPAS-B dari pagi hingga pukul 12 siang. Setidaknya sampai aku di sana pada pukul setengah satu siang. Peserta kegiatan Latihan 3 Divisi ada 13 orang…

Tunggu, 13? Ah, aku baru sadar kalau angka ini kan…

13 orang ini adalah Pengiring : Bang Ketum, Ka Ayu, Ka Heni, Ka Went, Bang Raul, Bang Sys, Bang Basri, Bang Iwan, dan peserta : Bang Ozan, Ka Rini, Ucup, Ayak, aku sendiri.

Ketua pelaksananya adalah Ucup alias Suprianto. Dia jadi sangat-sangat sibuk sebab kegiatan ini jelas ada dibawah tanggung jawabnya. Ia berulang kali memastikan berbagai macam kelengkapan peralatan untuk kegiatan Latihan 3 Divisi yang tenttu saja tidak sedikit. Aku sendiri, hari itu baru saja melakukan packing satu jam sebelum berangkat. Banyak sekali  kekurangan dalam perbekalanku untuk kegiatan ini, dan itu bahkan hanya untuk diriku pribadi. Tidak terbayang bagaimana rasanya jadi Ucup, yang juga harus mengecek ulang peralatan kelompok, berkali-kali.

Sebelum berangkat, kami melakukan acara pelepasan terlebih dahulu di halaman Sekre. Kami berangkat dengan menggunakan sepeda motor menuju Aranio, Kabupaten Banjar. Lebih tepatnya lagi,kami pergi menuju waduk riam kanan yang kalau kita mau ke Mandiangin belok kanan, maka ke Riam Kanan ke sebelah kirinya. Ke sananya dari Tiwingan (atau tempat itu memang namanya Tiwingan?). Sekitar satu jam, kami sampai di Banjarbaru. Ka Went dan Ka Ayu meneruskan ke Tiwingan, sedangkan aku dan Bang Raul berhenti di Lamdikada Banjarbaru untuk menunggu peserta lain yang tertinggal di belakang. Ternyata, kami hanya bertemu dengan Ka Heni dan Bang Sys. Peserta yang lain berhenti dulu di rumah Bang Farid. Bang Farid ikut. Akhirnya ada 14 orang yang mengikuti kegiatan. Saat tahu Bang Farid ikut, agak terkejut juga. Artinya kan niat banar nih si Bang Farid ni umpat, kan?

Tahu begitu, kami meneruskan perjalanan ke Aranio melanjutkan ke Tiwingan,karena waktu sudah sangat mepet. Jangan salah, perjalanan kami tidak hanya berhenti sampai Tiwingan saja, tapi masih harus menyebrangi waduk riam kanan menggunakan kelotok untuk mencapai Desa Balangian. Desa terakhir di daerah gunung Kahung. Tarif yang dikenakan oleh pemilik kelotok perorangnya 10 ribu rupiah. Mang Lian, begitu kami memanggil pemilik kelotok sekaligus drivernya. Kasian Mang Lian menunggu lama jika kami tidak bergegas, karena kami berjanji untuk sudah sampai di Tiwingan sekitar jam 3 sore.

Setibanya di Tiwingan, di sana sudah Ada Bang Ketum a.k.a Bang Aji + vespa yang menunggu. Sambil menunggu peserta lain +Bang Farid, aku sempat membeli headlamp sebab aku tidak membawa senter, lagi (iih, kada jara-jara ja nah kada membawa senter pas kegiatan). Harganya 20 ribu… 20 ribu… 20 ribu… 20 ribu…. Hiks.

Sambil menunggu, kami sempat ngobrol sedikit, kebetulan hanya aku yang peserta yang ada disitu, yang lain senior + PDL (entah kenapa keliatan seram kalau pakai PDL). Mereka bilang cuma aku pesertanya dan ngga rame banget kalau cuma aku yang disiksa… Eaaa! Balik aja dah kalo gitu! Selain itu juga kami bertemu dengan Mapala Wira yang dengar-dengar mau ke Aurbunak, gunung satunya lagi dekat Gunung Kahung.

Sepeda motor dan helm kami titipkan di warung. Kami (Aku, Bang ketum, Ka Ayu, Ka Heni, Ka Went, Bang Sys) berjalan ke ‘dermaga’ (whatever it’s called, pokoknya tempat dimana kelotoknya pada parkir buat ngangkut penumpang). Di kelotok itu sudah ada muatan yakni berkarung-karung pakan ikan. Kami meletakkan carrier kami di dalam kelotok sedangkan kami sendiri lebih memilih naik ke atas atap don’t try this at home if you don’t bring your life vest. In my case I brought it, just brought it, not wore it. Hehe. Aku memang membawa satu life vest di carrier dengan packingan yang sangat ‘maksa’. Later, packingan ini seperti ini agak mengganggu.

Bawa life vest ke gunung buat apaan? Ini kan latihan 3 divisi, salah satunya adalah divisi air. Life vest rencananya akan digunakan pada saat susur sungai di hari ketiga.

Bang Farid cs datang. Segera setelah mereka juga naik ke atas kelotok, kami membelah danau menuju Desa Balangian sekitar pukul 15.30 WITA.

Selama di perjalanan, kami menikmati pemandangan yang ada. Di sekeliling waduk terlihat pegunungan meratus. Dari dalam waduk mucul ranting-ranting pohon. Aku, Ka Went dan Bang Raul sempat membahas masalah itu. Kata Bang Raul, sebenarnya dulu tenpat itu hanya berupa sungai kecil saja, tapi setelah dibendung, hanya dalam waktu 3 tahun, akhirnya berubah menjadi sangat besar dan dalam. Ranting-ranting pohon itu adalah bekas pepohonan yang dulu pernah tumbuh sebelum air menjadi setinggi sekarang. Para penduduk tinggal semakin naik seiring dengan naiknya permukaan air. Jadi, jika yang mucul itu adalah ranting-ranting pucuknya, perkirakan saja, kira-kira seberapa dalam waduk itu. Aku bergidik, soalnya tidak bisa berenang.

Selain itu Ka Went juga menggambarkan peta kasar medan yang akan kami tempuh lima hari ke depan.

Selain itu juga mengingatkan: ‘Munnya handak mendaki tu betakun lawan yang sudah pernah, jadi tahu kayapa medannya, berapa waktu yang diperlukan gasan kesitu. Banyak aja senior yang sudah pernah ke Kahung, kan ikam ada hape. SMS kah, betakun-takun, minta gambarkan petanya…’. Rambut ka Went berterbangan tertiup angin.

Perjalanan yang ditempuh selama 2 jam itu tidak kami lewatkan hanya dengan duduk-duduk saja. Foto! Setiap kali ada spot yang bagus untuk berfoto atau Cuma karena lagi narsis, kami foto bareng di atas kelotok. Hello!! Jarang-jarang datang ke tempat itu, sayang melewatkan kesempatan ini. Senior dari Lebah Rimba berfoto ria dengan berbagai gaya di atas atap kelotok, Arwana Laut kebetulan di bawah, jadi aku tidak tahu apa yang merek lakukan. Apa yang mereka lakukan? Hmmm… Sedangkan Aku dan Ayak dari Komodo Rawa, ikut juga! Kapan lagi? Ucup di bawah, jadi tidak ikut bernarsis ria. Bang Farid? Tidur.

Di tengah jalan, kami berhenti sejenak di peternakan ikan. Ini pertama kali aku melihat yang sepetti ini. Rumah peternak ikan itu seperti mengapung di atas air. Mereka mendirikan rumah sederhana di atas batang, dan di bagian depan rumahnya ada semacam jala berpetak-petak berisi ikan. Kelotok kami bersinggah untuk mengantar pakan ikan yang ada. Setelah semua pakan ikan diantar ke setiap peternak ikan, kelotok jadi berjalan lebih cepat.

Kami tiba di Desa Balangian sekiatr pukul 18.00 WITA. Setiap orang mengambil carrier dan daypacknya masing-masing. Kami berjalan menuju rumah sekertaris desa terlebih dahulu untuk menyerahkan surat-surat, hal-hal bersifat adminsitratif lainnya.

Pa Sekdes ini, dipanggil dengan nama ‘Abah Ipit’, aku sendiri kurang jelas dengan nama beliau. Setibanya dirumah beliau, kami duduk sejenak, meminta izin untuk berkegiatan dan sempat membeli minyak gas untuk digunakan sebagai bahan bakar obor. Kenapa obor? Karena, kami akan trekking malam.

Bertepatan dengan azan magrib, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menyusuri jalan desa menuju Sungai Besar. Jalan yang hanya lurus itu kemudian terbagi dua, yang satu terus menuju SD dan yang lain berbelok. Jalan berbelok itulah yang kami ambil untuk menuju Sungai besar. Di sana ada pohon bambu, kami berhenti lagi untuk membuat obor dengan menggunakan ilalang sebagai sumbatnya.

Ka Went berkali-kali menyebutkan tentang Jungle Survival, kegiatan IMPAS-B dimana pesertanya dilepas di alam hanya dengan peralatan sangat minim. Setiap peserta harus bisa membuat obor seperti ini. Aku disuruh untuk belajar bagaimana cara membuat obor. Salah satu alasan emmbuat obor ini juga, karena di jalan nanti malam akan jadi sangat gelap di daerah yang tertutup pepohonan.

Kami membuat kurang lebih 7 obor. Setelah diisi minyak gas dan dinyalakan, kami meneruskan menyusuri jalan setapak sampai akhirnya kami menmukan Sungai Besar. Padahal ada jembatan untuk menyeberangi Sungai yang lebarnya sekitar 30 meter ini, tapi jembatan itu sudah rusak. Kami mau tidak mau menyeberangi sungai dengan mencelupkan tubuh ke air dingin yang saat itu sedang agak pasang. Dasar sungainya adalah berupa bebatuan dengan ukuran sedang. Kami saling berpegangan agar tidak tersandung atau terpeleset saat menyebranginya. Dingin sekali, setidaknya itulah yang aku rasakan (aku tidak terlalu tahan dingin, pagi hari saja kalau terkena air ditempat-tempat sensitif, aku bisa mulas dan masuk angin. Yep, memang menyedihkan). Tanpa menghiraukan itu, kami terus berjalan menuju pemberhentian selanjutnya, Shelter Simpang Tiga, letaknya di kaki gunung Kahung.

Leadernya Ucup, kemudian di posisi kedua ada Ayak, aku di posisi ketiga, di belakang aku kurang memperhatikan, karena saat itu kami tertuntut untuk terus bergerak maju dalam cahaya obor yang remang-remang. Headlamp masih standby di kepala. Dalam gelap-gelapan ini, kami terus berjalan sambil mendengar obrolan para senior atau sekedar celetukan-celetukan iseng. Aku sendiri tidak terlalu banyak berbicara. Hemat beb… Hemat tenaga maksudnya. Carrierku memang tidak berat-berat amat, tapi punya yag lain cukup berat. Punya Ucup misalnya, dia sampai sempat menukar carriernya dengan Bang Ozan karena carriernya cukup berat, begitupun Ayak. Aku masih ingat kata-kata Bang Farid mengomentari ini. Katanya, ‘Jangan acting Cuup,’. Uma Bang, kada ekting…..

DI jalan, kami menemukan jalan yang becek, jalan yang dipagari karena merupakan kebun orang (yang ternyata juga menanam lombok!!), satu anak sungai lagi setelah sungai besar (yang kemudian kami ketahui bernama sungai keladi karena ada keladi besar di tepinya), dan hadangan yang untungnya tidak menampakkan diri (saat itu aku bahkan tidak tahu apa yang dimaksud dengan hadangan, I will explain this later).

Pukul 10 malam, kami sudah melewati Shelter Kembar dan berhenti di atas Bukit Kahung untuk beristirahat sejenak. Di sanalah kami mulai menjumpai sahabat setia yang selanjutnya terus menyertai kami dalam setiap langakah perjalanan. Sahabat yang takkan pernah melepaskan dirimu disaat sesulit apapun. Perkenalkan, lintah. Syukurnya di situ, aku masih belum kena gigitannya.

Perjalanan dilanjutkan kembali setelah 30 menit istirahat dan mengisi obor dengan minyak gas dan mengganti sumbunya, karena ‘setelah ini akan sangat gelap.’ dan ‘tidak ada ilalang lagi’. Benar sekali, berjalan terus saja dan akhirnya kami mulai menemui pepohonan tinggi dan meninggalkan padang ilalang.

Dalam kegelapan itu, kami berkali-kali kesulitan mencari jalur, sebab banyak simpangan yang kami temui. Kami mengambil jalur yang salah sekitar dua tiga kali. Perjalanan ini kami berpedoman pada ingatan Ka Went ketika ke tempat ini dua bulan yang lalu dan Ingatan Bang Farid yang lebih sering ke Kahung.

Dalam kegelapan itu masing-masing berusaha mencari jalur yang benar. Ditengah jalan kami menemukan stream line berwarna pink dari Mapala IAIN. Untuk kurun waktu sebentar kami sempat mengikuti stream line itu, tap ternyata jalur yang diambil adalah jalur ke puncak dan bukannya ke simpang tiga. Kami kemudian berbalik memutar untuk mencari jalur yang benar. Perjalanan ini tidak mulus begitu saja, selain jalannya yang sedikit menanjak, di jalan kami juga menemuan rombongan penderitaan bernama ’salimbada’ alias semut badak.  Dengan langkah yang dibuat cepat, kami juga berusaha mengamati jalan kalau-kalau jalur yang kami tempuh berpotongan dengan jalur salimbada yang kalau sudah menggigit minta ampun sakitnya. Jadi setiap kali kami menemukan rombongan salimbada di jalan, kami akan berteriak memperingatkan yang lain: ‘Salimbada salimbada!’ dan berlari untuk segera melewati tempat itu sebelum Salimbada menaiki kaki kami dan mulai menancapkan giginya di kaki kami. Seru juga sebenarnya dan mengasyikkan, sebab ada saja yang iseng untuk berteriak-teriak salimabada walaupun sebenarnya tidak ada apapun di jalan. Ini membuat kami berlari-lari tanpa sebab. Sepertinya sih alasan ‘pelakau’ adalah agar berjalannya jadi lebih cepat lagi. Yang paling sering berteriak salimbada adalah: Ka Went.

Kami kemudian melewati jalan setapak yang kiri kanannya adalah pohon bambu. Kami diperingati untuk berhati-hati. Tapi ternyata, siapa sangka,hanya beberapa saat setelah itu terdengar suara teraiakan tertahan dari bang Ketum. Kakinya luka terkena bambu dan mengeluarkan banyak darah. Saat itu mereka memilih menyebut itu sebagai ‘rabit’ a.k.a ‘sobek’. Istilah yang terdengar seram.  Luka itu kemudian disiram dengan air dan dibalut dengan slayer. Walau begitu, kami tetap terus melanjutkan perjalanan.

Rintangan tidak hanya sampai situ. Setelah menemukan jalur yang benar, ada saja kemudian yang kami temui di jalan. Semakin malam, semakin gelap. Aku tidak tahu kalau ternyata kegelapan ini bukan hanya karena malam, tapi ternyata memang ada awan gelap yang berada di atas kami. Awan gelap ini kemudian mengejutkan kami dengan berubah menjadi titik-titik besar air yang jatuh dari langit. Hujan turun. Padahal jalan saat itu sudah sulit. Saat hujan turun, kami berada di tepi sungai berbatu yang membuat langkah-langkahku tidak selancar di jalan setapak, tambah lagi aku orangnya agak kurang seimbang dan bergerak kikuk (sering terpeleset disaat yang tidak tepat), untung dibantu oleh yang lain.

Suara sungai jadi nyaring dengan adanya hujan yang turun dengan lebat. Yang kupikirkan saat itu adalah bagaimana jika air bah datang? Saat itu ada berbagai macam hal yang lewat di kepalaku, hujan, dingin, kapan kami sampai di Shelter Simpang Tiga?

Saat hujan turun, hanya dua orang yang mengeluarkan jas hujannya, sedangkan aku dan yang lailn berjalan dalam hujan. Ini jadi catatan, agar mempersiapkan barang bawaan sebaik-baiknya and always count for variable change.

Ternyata eh ternyata, tidak lama, tidak jauh dari tempat kami kehujanan, kami tiba di Shelter Simpang Tiga! Alhamdulillah…. Walaupun begitu, kami sudah basah karena hujan lebat. Kami naik ke shelter dan meletakkan carrier. Sebagian laki-laki membuat api dan yanglain menyiapkan untuk makan malam, ada juga yang mengeringkan tubuh.

Kami tiba di Shelter sekitar pukul 23.30 malam. Masih hujan dengan angin yang bertiup cukup kencang. Terdengar keras suara sungai yang mengalir deras dan karena rintik hujan. Air, yang kami perlukan adalah air. Ayak dan ucup mengisi botol-botol air mineral berukuran 1,5 liter ke sungai di bawah. Rasa-rasanya sempat ada sedikit percakapan soal air dari Bang Farid dan yang lain. Katanya, ‘munnya kada karuh banyunya, apa nah?’ tantang bang Farid. Well, sebagian mengira air akan keruh karena hujan, karena bah. Tapi ternyata Bang Farid benar, airnya jernih.

Ka Rini yang dipilih sebagai seksi konsumsi dan alhamdulillah (syukur dari hati yang terdalam, sangat, dalam *nangis terharu*) jadi seksi konsumsi mempersiapkan makan malam kami. Ka Rini memilih untuk tidak ganti baju dulu sampai kami makan. Padahal malam itu angin bertiup sangat dingin. Aku khawatir kalau-kalau Ka Rini masuk angin. But I know I underestimated her if I did so.

Menu malam nasi, ikan asin, dengan kol dan wortel sebagai sayurnya (kalau tidak salah). Walaupun nasinya karau, kami semua tetap makan dengan lahap, mengingat apa yang telah kami lalui. Yang kurang hanya: kecap.

Setelah beres-beres, kami melakukan  evaluasi pukul 1.00 dini hari tentang hari. Tentang jadwal yang molor, tentang apa yang terjadi siangnya. Setelah itu kami juga merencanakan apa yang akan dilakukan esok hari. Kami semua berharap kegiatan agar besok bisa dilaksanakan sesuai jadwal. Aku tidak begitu ingat detailnya, tapi Ka Went terus-menerus mengingatkan untuk mencatat waktu dan kegiatan di catatanku (yang sayangnya pada akhirnya basah dan hilang karena suatu kesalahan setelah kegiatan selesai). Besok pagi kami harus bangun pukul 4.30.

Istirahat pukul 2.30. Tidurnya di atas Shelter. Perempuan berjejer berlima mengahadap ke sungai dan yang laki-laki sebaliknya dengan kepala saling berbelakangan, ada juga yang tidur di bagian langit-langit shelter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s